JAKARTA – Paris Saint-Germain (PSG) menorehkan sejarah baru di kancah sepak bola Eropa.
Klub raksasa asal Prancis itu resmi mengangkat trofi Piala Super Eropa untuk pertama kalinya usai mengalahkan Tottenham Hotspur dalam drama adu penalti yang menegangkan di Stadion Friuli, Udine, Kamis (14/8) dini hari WIB.
Laga penuh emosi ini berakhir dengan skor imbang 2-2 di waktu normal.
Tottenham sempat berada di atas angin dengan unggul dua gol melalui aksi Micky van de Ven dan Cristian Romero.
Namun, PSG menunjukkan mental juara lewat kebangkitan sensasional di lima menit terakhir berkat gol Lee Kang-in dan Goncalo Ramos yang memaksa laga berlanjut ke babak tos-tosan.
Kemenangan 4-3 di babak adu penalti menjadi penanda manis dimulainya musim 2025/2026 bagi PSG.
Sementara itu, Tottenham harus menunda mimpi meraih gelar Piala Super Eropa yang seharusnya menjadi yang pertama dalam sejarah klub.
Pertandingan Penuh Tekanan dan Balikkan Keadaan
Sejak peluit awal, PSG mendominasi penguasaan bola dengan catatan 74 persen.
Namun, Tottenham justru tampil lebih tajam dengan melepaskan 13 tembakan, lima di antaranya mengarah tepat ke gawang.
Kiper PSG, Lucas Chevalier, beberapa kali menjadi tembok kokoh, termasuk ketika menggagalkan upaya Richarlison dan Joao Palhinha.
Namun, ketangguhan Chevalier runtuh di menit ke-39 saat Micky van de Ven memanfaatkan bola muntah di depan gawang untuk membawa Spurs unggul 1-0.
Babak kedua belum genap berjalan tiga menit, Cristian Romero menggandakan keunggulan Tottenham lewat sundulan tajam menyambut umpan Pedro Porro.
Spurs bahkan nyaris memperlebar jarak melalui Kevin Danso, tetapi sundulannya melambung tipis.
PSG yang terus mencari celah sempat merayakan gol Bradley Barcola, namun wasit menganulirnya karena posisi offside.
Barulah di menit ke-85, umpan matang Vitinha diselesaikan Lee Kang-in untuk memperkecil ketertinggalan.
Klimaks terjadi pada menit 90+4 ketika Goncalo Ramos menanduk umpan silang Ousmane Dembele, memaksa skor menjadi 2-2.
Drama Adu Penalti: PSG Angkat Trofi
Di babak adu penalti, ketenangan menjadi kunci. PSG sukses mengeksekusi empat dari lima kesempatan.
Sementara Tottenham harus gigit jari setelah dua eksekutornya, Micky van de Ven dan Mathys Tel, gagal menuntaskan tugas.
Kemenangan ini menjadi tonggak sejarah bagi PSG dan sinyal kuat bahwa skuad Luis Enrique siap bersaing memperebutkan gelar di musim baru.
Tottenham, meski gagal, tetap menuai pujian atas performa ofensifnya yang membuat laga ini layak disebut sebagai salah satu partai pembuka musim paling dramatis dalam beberapa tahun terakhir.***