JAKARTA – Sebuah bait puisi yang sebelumnya tidak dikenal dari Federico García Lorca ditemukan 93 tahun setelah ditulis, memberikan wawasan baru tentang ketertarikan penyair Spanyol itu terhadap konsep waktu.
Puisi delapan baris tersebut diyakini ditulis Lorca pada 1933, saat ia mengerjakan kumpulan Diván del Tamarit, yang merupakan penghormatan kepada para penyair Arab di Granada. Bait itu ditemukan di bagian belakang manuskrip Gacela de la raíz amarga, yang dibeli penyanyi flamenco Miguel Poveda dari seorang pedagang barang antik Jerman.
Penemuan ini kemudian diverifikasi oleh pakar Lorca, Pepa Merlo, dan akan dimuat dalam buku terbaru. Puisi tersebut berbunyi:
“Jam berdentang / Aku menghitung jam secara mekanis / Pukul tujuh; pukul dua belas / Semuanya sama / Aku tidak di sini / Itu adalah tanda daging / Yang kutinggalkan saat aku pergi / Agar aku tahu tempatku / Saat aku kembali.”
Poveda mengaku sangat tersentuh oleh temuan itu. “Perhatian saya tertuju ketika Pepa Merlo berkata kepada saya, ‘Itu tulisan tangan Federico. Kamu punya karya baru dari Federico di sana’,” ujarnya kepada TVE, dilansir The Guardian, Sabtu (18/4/2026).
Merlo menilai bait singkat itu menegaskan pentingnya konsep waktu bagi Lorca, meski ditulis di bagian belakang karya lain. Lorca sendiri dikenal sebagai penulis progresif dengan karya-karya seperti Gypsy Ballads, Poet in New York, Blood Wedding, Yerma, dan House of Bernarda Alba. Ia ditembak mati pada Agustus 1936 oleh regu eksekusi sayap kanan di awal perang saudara Spanyol, dan jasadnya tak pernah ditemukan.
Puisi yang baru ditemukan ini akan diterbitkan dalam buku karya Poveda dan Merlo berjudul Las cosas del otro lado. lo inédito en Federico García Lorca.