Dunia pendidikan Jawa Barat kembali diguncang aksi niradab. Sebuah video pendek berdurasi 31 detik yang memperlihatkan perilaku tidak terpuji sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta terhadap gurunya viral di media sosial. Aksi yang dianggap melecehkan martabat pengajar ini menuai kecaman luas dari netizen yang geram melihat rendahnya etika para siswa di dalam kelas.
Insiden tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, yang menyebutkan bahwa kejadian tersebut melibatkan sembilan siswa dari kelas XI IPS.
Kronologi: Provokasi di Balik Meja Kelas
Peristiwa ini meletus pada Kamis (16/4/2026), tepat setelah jam pelajaran pengolahan makanan berakhir. Sasarannya adalah Ibu Atum, seorang guru yang belum lama bertugas di sekolah tersebut.
Dalam potongan video yang beredar luas pada Sabtu (18/4), terlihat seorang siswi berkerudung di barisan belakang melakukan tindakan provokatif. Ia tampak mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah sang guru yang masih berada di depan kelas. Aksi ini diduga dilakukan secara sadar untuk direkam dan dijadikan konten media sosial.
“Setelah kegiatan itu selesai, terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut. Motif pastinya masih didalami secara internal oleh pihak sekolah,” ungkap Purwanto di Bandung.
Debat Sanksi: Skorsing vs Sikat Toilet
Pihak sekolah bergerak cepat dengan menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada sembilan siswa terlibat. Namun, hukuman “dirumahkan” ini mendapat kritik dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dedi menilai skorsing bukanlah solusi efektif untuk membentuk karakter. Ia mengusulkan agar para siswa tersebut tetap berada di sekolah namun melakukan kerja sosial yang berat sebagai bentuk penebusan dosa.
“Saya sarankan anak-anak itu tidak diskors, tapi diberikan hukuman menyapu halaman sekolah setiap hari dan membersihkan toilet. Durasi hukumannya bisa satu hingga tiga bulan sampai karakternya berubah,” tegas Dedi Mulyadi. Menurutnya, hukuman harus memberikan manfaat nyata bagi perubahan mental siswa, bukan sekadar memberikan waktu libur di rumah.
Evaluasi Ponsel di Lingkungan Sekolah
Selain sanksi bagi pelaku, kasus ini menjadi sinyal merah bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk meninjau kembali kebijakan penggunaan ponsel di sekolah. Purwanto menilai, teknologi seringkali memicu ekspresi spontan yang kebablasan tanpa memikirkan konsekuensi moral.
“Penggunaan ponsel perlu dievaluasi. Apa yang mereka rekam dan ekspresikan adalah refleksi karakter mereka di ruang digital,” tambahnya.
Kini, sembilan siswa tersebut beserta orang tua mereka telah dipanggil pihak sekolah. Meski para siswa telah menyatakan penyesalan mendalam dan para orang tua merasa terpukul, proses pembinaan karakter khusus akan tetap dijalankan agar martabat guru di SMAN 1 Purwakarta—dan seluruh sekolah di Jawa Barat—tetap terjaga.