SUMBA BARAT DAYA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat di daerah. Salah satunya dirasakan oleh Vincencia Toma, ibu hamil asal Desa Radamata, Tambulaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia mengaku, sejak program MBG berjalan di desanya, asupan nutrisi untuk dirinya dan anaknya yang berusia 4 tahun menjadi lebih terjaga.
“Dulu sarapannya seadanya saja. Sekarang, sejak ada makanan dari MBG, anak saya makannya selalu habis,” kata Vincencia saat ditemui di Posyandu Radamata, seperti dikutip dari siaran resmi Tim Media Presiden Prabowo, Minggu (1/6/2025).
Menurut Vincencia, program MBG juga membantu meringankan beban pengeluaran keluarga. Sebelum adanya MBG, ia harus membagi stok makanan yang dimasak untuk pagi dan sore hari. Kini, makanan dari MBG yang diterima setiap pagi memungkinkan stok makanan keluarga lebih terjaga.
“Bisa disiasati, pagi dapat dari MBG, jadi stok untuk makan sore bisa aman,” tambahnya.
Vincencia merupakan salah satu dari ratusan ibu hamil dan menyusui di Sumba Barat Daya yang menerima manfaat program MBG. Makanan bergizi disalurkan setiap hari melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tambolaka dan didistribusikan lewat posyandu-posyandu setempat.
SPPG Tambolaka juga melayani distribusi makanan bergizi ke sekolah-sekolah di wilayah tersebut.
Ia berharap, program ini tidak hanya bersifat sementara.
“Harapannya sih semoga program ini bisa berjalan terus seperti itu,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis secara nasional diluncurkan pada 6 Januari 2025. Pada hari pertama pelaksanaan, terdapat 190 SPPG yang mengoperasikan dapur umum untuk menyuplai makanan ke posyandu dan sekolah-sekolah di 26 provinsi.
SPPG sendiri merupakan satuan yang terdiri dari kepala unit, ahli gizi, dan akuntan, dengan tugas mengelola, memasak, dan mendistribusikan makanan bergizi gratis kepada ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak-anak.
Pemerintah menargetkan penerima manfaat MBG mencapai 3 juta orang pada periode Januari–April 2025, meningkat menjadi 6 juta pada April–Agustus, dan 15–17 juta orang pada Agustus–September. Hingga akhir tahun 2025, ditargetkan 82,9 juta orang di seluruh Indonesia akan merasakan manfaat dari program ini.