JAKARTA โ Pendapatan APBN semester I 2026 menunjukkan tren positif setelah berhasil mencapai Rp1.459,4 triliun hingga akhir Juni.
Capaian tersebut setara 46,3 persen dari target pendapatan negara dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp3.153,6 triliun.
Kinerja fiskal itu dipaparkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa.
Pemerintah menilai peningkatan penerimaan negara menjadi sinyal kuat membaiknya aktivitas ekonomi nasional pada paruh pertama tahun ini.
Selain pertumbuhan ekonomi, penerimaan juga ditopang penguatan pengawasan perpajakan, kepabeanan, serta perbaikan tata kelola penerimaan negara.
Kontribusi layanan kementerian, lembaga, dan badan layanan umum turut memperkuat performa pendapatan negara sepanjang semester pertama.
โPendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun yang telah mencapai 46,3 persen dari target APBN, tumbuh 21,4 persen year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025,โ kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa.
Penerimaan perpajakan menjadi penyumbang terbesar dengan realisasi Rp1.187,8 triliun atau 44,1 persen dari target tahunan.
Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak mencapai Rp1.035,7 triliun atau 43,9 persen dari target Rp2.357,7 triliun.
Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai berhasil terkumpul Rp152 triliun atau 45,2 persen dari target Rp336 triliun.
Pemerintah menilai hasil tersebut menjadi indikator awal keberhasilan pembaruan sistem administrasi perpajakan nasional.
โJadi, reformasi perpajakan dan organisasi perpajakan sudah memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Ke depannya akan terus membaik,โ ujarnya.
Di luar sektor pajak, penerimaan negara bukan pajak atau PNBP juga mencatat perkembangan yang cukup kuat.
PNBP hingga semester I mencapai Rp271 triliun atau sekitar 59 persen dari target APBN sebesar Rp459,2 triliun.
Pada sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan pengeluaran negara sebesar Rp1.656 triliun.
Nilai tersebut setara 43,1 persen dari target belanja APBN sebesar Rp3.842,7 triliun.
Realisasi belanja negara juga meningkat 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.298,6 triliun atau 41,2 persen dari target tahunan.
Belanja kementerian dan lembaga terealisasi Rp658,9 triliun atau 43,6 persen dari pagu anggaran.
Sementara belanja nonkementerian dan lembaga tercatat Rp639,7 triliun atau 39 persen dari target.
Transfer ke daerah juga terus dipercepat dengan realisasi Rp357,4 triliun atau 51,6 persen dari target Rp693 triliun.
Pemerintah menyebut pola penyaluran anggaran kini dibuat lebih merata agar dampaknya terhadap ekonomi berlangsung sepanjang tahun.
โItu merupakan hasil dari upaya kami untuk memastikan belanja negara terjadi lebih merata sepanjang tahun.โ
โKinerja belanja ditujukan untuk mendorong perekonomian lebih tinggi, mendukung agenda pembangunan, dan program prioritas nasional,โ tambah Purbaya.
Meski belanja meningkat, kondisi APBN masih berada dalam jalur fiskal yang dinilai sehat.
Hingga semester I 2026, APBN mencatat defisit Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap PDB.
Di saat yang sama, keseimbangan primer masih mencatat surplus sebesar Rp85,1 triliun.
Pemerintah memastikan posisi tersebut tetap memberikan ruang fiskal yang memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
โKondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali,โ tuturnya.***