JAKARTA – Diabetes selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang identik dengan usia lanjut. Banyak orang juga menganggap konsumsi makanan atau minuman manis sebagai penyebab utama munculnya penyakit tersebut.
Namun, tren kesehatan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang cukup mengkhawatirkan. Diabetes kini mulai lebih sering ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk Generasi Z atau Gen Z.
Fenomena meningkatnya kasus diabetes pada kelompok usia muda menjadi perhatian karena penyakit ini tidak lagi muncul hanya pada mereka yang berusia di atas 40 tahun.
Perubahan pola hidup modern membuat anak muda semakin rentan terhadap gangguan metabolisme, terutama diabetes tipe 2.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola hidup yang minim aktivitas fisik, kurang tidur, obesitas, hingga faktor genetik ikut berperan dalam meningkatkan risiko tersebut.
Selama ini, gula memang sering menjadi “tersangka utama” ketika membahas diabetes. Padahal kenyataannya lebih kompleks daripada sekadar konsumsi makanan manis.
Tubuh manusia memiliki mekanisme yang mengatur kadar gula darah melalui hormon insulin. Ketika sistem tersebut terganggu, kadar gula darah dapat meningkat dan memicu diabetes.
Salah satu faktor yang banyak dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes pada Gen Z adalah gaya hidup sedentari atau kurang bergerak.
Saat ini banyak aktivitas dilakukan secara digital, mulai dari belajar, bekerja, hingga hiburan. Tidak sedikit anak muda menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan laptop atau ponsel setiap hari.
Penelitian mengenai gaya hidup sedentari pada Generasi Z menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat memengaruhi sensitivitas insulin dalam tubuh. Ketika tubuh jarang bergerak, pembakaran energi menjadi lebih rendah dan risiko penumpukan lemak meningkat.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal.
Selain kurang bergerak, pola makan modern juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Masalahnya bukan hanya soal makanan manis, tetapi juga makanan tinggi kalori, tinggi lemak, makanan olahan, serta kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan.
Banyak makanan praktis yang saat ini mudah diperoleh ternyata mengandung kalori tinggi tetapi minim nutrisi.
Kebiasaan melewatkan sarapan, sering mengonsumsi minuman tinggi gula, makan larut malam, serta porsi makan yang berlebihan juga dapat memengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh.
Jika berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan berat badan dan memicu gangguan kesehatan lainnya.
Faktor lain yang sering tidak disadari adalah kurang tidur. Banyak Gen Z memiliki pola tidur yang tidak teratur akibat aktivitas akademik, pekerjaan, hiburan digital, maupun penggunaan media sosial hingga larut malam. Padahal kualitas tidur memiliki hubungan erat dengan kesehatan metabolisme.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan meningkatkan risiko diabetes. Kurangnya waktu istirahat juga dapat memicu peningkatan hormon stres tertentu yang akhirnya memengaruhi kadar gula darah.
Selain itu, obesitas juga menjadi faktor penting yang berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes. Penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut, diketahui dapat mengganggu kerja insulin dalam tubuh.
Bahkan pada beberapa kasus, seseorang yang terlihat tidak terlalu gemuk tetap dapat mengalami gangguan metabolisme apabila memiliki penumpukan lemak viseral atau lemak di sekitar organ tubuh.
Di sisi lain, faktor genetik juga dapat berpengaruh. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan diabetes memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut.
Meskipun demikian, faktor keturunan bukan berarti seseorang pasti akan terkena diabetes. Pola hidup sehat tetap memiliki peran besar dalam menurunkan risikonya.
Meningkatnya kasus diabetes pada Gen Z menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan mengurangi makanan manis.
Aktivitas fisik yang cukup, pola makan seimbang, tidur yang berkualitas, serta menjaga berat badan ideal juga memiliki peranan penting.
Langkah pencegahan sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti rutin berjalan kaki, mengurangi waktu duduk terlalu lama, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, membatasi makanan cepat saji, serta menjaga pola tidur yang teratur.
Diabetes bukan penyakit yang muncul secara tiba-tiba. Kondisi tersebut berkembang melalui kebiasaan yang berlangsung bertahun-tahun.
Karena itu, semakin cepat pola hidup sehat diterapkan, semakin besar pula peluang untuk menjaga kesehatan tubuh di masa depan. (MK)