Menjelang lima tahun peringatan salah satu akhir kejuaraan dunia paling kontroversial dalam sejarah F1, kenangan pahit di Abu Dhabi 2021 kembali menghantui paddock setelah berakhirnya GP Inggris di Sirkuit Silverstone baru-baru ini.
Pada F1 2021 silam, Lewis Hamilton yang mendominasi balapan penentu di Abu Dhabi harus kehilangan gelar juara dunia kedelapannya secara brutal. Kesalahan fatal Direktur Balap FIA saat itu, Michael Masi, yang melanggar regulasi Safety Car demi memaksakan balapan satu lap terakhir, sukses merampas takhta Hamilton dan memberikannya kepada Max Verstappen. Masi dipecat, namun bayang-bayang ketidakadilan itu tetap abadi.
Kini, skenario Safety Car di lap-lap akhir kembali terjadi di Silverstone, namun dengan akhir yang bertolak belakang.
Regulasi Kaku vs Keinginan Penonton: “Sport Dahului Show”
Balapan GP Inggris berakhir antiklimaks di bawah kawalan Safety Car. Keputusan ini disambut cemoohan (boo) dari 175.000 penonton yang memadati sirkuit karena mereka kehilangan momen adu penalti satu lap terakhir. Namun, secara hukum F1, keputusan Direktur Balap saat ini, Rui Marques, adalah 100% benar.
Merespons akhir balapan yang kaku namun adil ini, Bos Mercedes Toto Wolff langsung melayangkan sindiran menohok terkait tragedi musim 2021.
Sentilan Keras Toto Wolff: “Saya pribadi lebih memilih aturan ini diterapkan pada tahun 2021. Itu jauh lebih penting. Sangat bagus melihat regulasi kali ini dipatuhi secara harfiah. Terkadang, hal ini memang tidak menyajikan akhir balapan yang paling menarik. Namun, ini adalah olahraga. Pertunjukan (show) harus mengikuti aturan olahraga, bukan sebaliknya. Jadi, langkah FIA kali ini sudah tepat.”
Ironi Hamilton: Kembali Jadi Korban Strategi demi “Skenario Abu Dhabi”
Secara ironis, pembalap yang paling dirugikan akibat kepatuhan aturan Safety Car di Silverstone ini lagi-lagi adalah Lewis Hamilton. Ferrari memanggil Hamilton untuk ganti ban demi keunggulan. Namun karena balapan tidak dimulai lagi maka Hamilton terpaksa finis di P3 di belakang Russell.
Jika balapan dimulai kembali (seperti skenario Abu Dhabi 2021), Hamilton dipastikan diuntungkan karena memiliki keunggulan ban segar atas George Russell (Mercedes) yang memilih bertahan di trek. Namun karena aturan dijalankan dengan benar, balapan tidak pernah dimulai lagi. Russell finis di posisi kedua, sekaligus memangkas jarak poin kejuaraan dari rekan setimnya, Andrea Kimi Antonelli, menjadi 25 poin saja.
Luka Lama yang Terbuka Kembali
Meskipun merugikan posisi finisnya, momen di Silverstone ini memicu gelombang solidaritas dari para penggemar yang menganggap hal ini sebagai bukti sahih bahwa Hamilton adalah juara dunia 8 kali yang sah secara hukum.
George Russell pun memberikan pembelaan yang rasional pasca-balapan. “Tentu memalukan melihat balapan finis di bawah Safety Car. Tapi jika Anda melihat kembali Abu Dhabi ’21, begitulah seharusnya dunia balap berjalan. Cara F1 dan FIA menangani insiden di akhir balapan tidak boleh berbeda dengan di awal balapan,” tegas Russell.
Ketika diminta tanggapannya, Lewis Hamilton memilih irit bicara dan hanya membalas singkat, “Sama seperti yang dikatakan George. Tidak banyak yang perlu ditambahkan.” Rasa kecewa itu mungkin sudah mereda, namun malam di Silverstone membuktikan satu hal: dunia belum melupakan ketidakadilan di Yas Marina.