JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil membalikkan tren pelemahan dengan menguat tipis pada pembukaan perdagangan Rabu (14/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terapresiasi 0,06 persen atau naik 10 poin menjadi Rp16.867 per dolar AS pada pagi hari, setelah sebelumnya ditutup melemah 0,13 persen ke level Rp16.877 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026).
Penguatan ini sempat menghentikan tren depresiasi beruntun yang mendekati level terlemah sepanjang sejarah, seiring rebound dolar AS akibat sikap hawkish The Federal Reserve (The Fed). Meski demikian, sentimen negatif masih mendominasi, dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal domestik dan potensi aliran modal keluar yang terus berlanjut.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah secara teoritis masih berpotensi melemah signifikan hingga ke posisi Rp17.000 per dolar AS. Ia menegaskan bahwa spekulasi ekstrem mengenai pelemahan ke Rp7.000 per dolar AS tidak relevan jika dilihat dari konteks historis dan fundamental ekonomi saat ini. Menurutnya, arah pergerakan rupiah sangat bergantung pada agresivitas intervensi Bank Indonesia (BI).
“Bisa saja rupiah melemah ke level tertentu, namun sangat tergantung seberapa agresif BI melakukan intervensi dan bagaimana pandangan BI terhadap nilai tukar tersebut,” ujar Lukman kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026).
Ia menambahkan, selama belum terjadi perubahan mendasar pada fundamental ekonomi domestik, arah pergerakan rupiah masih sulit diprediksi secara pasti. Faktor eksternal dan sentimen global dinilai akan tetap menjadi penentu utama pergerakan mata uang Indonesia. “Tidak bisa diperkirakan sejauh sebelum ada perubahan fundamental ekonomi domestik,” paparnya.
Menurut Lukman, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari penguatan kembali dolar AS pasca pernyataan hawkish The Fed yang mempertahankan kebijakan moneter ketat, sehingga dolar kembali menjadi aset aman pilihan investor global. Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi defisit anggaran yang melebihi batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) serta ekspektasi pemangkasan suku bunga BI turut menambah tekanan terhadap rupiah.
“Sebab utama rupiah melemah adalah penguatan dolar AS setelah pernyataan hawkish The Fed. Namun rupiah juga masih tertekan oleh kekhawatiran defisit anggaran bisa melampaui 3 persen serta ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh BI,” jelas Lukman.
Proyeksi serupa disampaikan lembaga keuangan internasional HSBC. Bank tersebut memperkirakan rupiah berpotensi melemah lebih lanjut hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026. Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist serta ASEAN Economist HSBC, Pranjul Bhandari, menyebut depresiasi rupiah lebih banyak dipicu oleh arus modal ketimbang kinerja perdagangan.
“Kami memperkirakan pada akhir 2026 nilai tukar rupiah bisa mencapai sekitar Rp17.000 per dolar AS, sedikit lebih lemah dibandingkan posisi saat ini,” kata Pranjul dalam media briefing, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, tekanan utama berasal dari aliran keluar investasi portofolio dan melemahnya penanaman modal asing sejak tahun lalu, ditambah defisit neraca pembayaran yang cukup lebar pada kuartal II-2025 sebesar 6,7 miliar dolar AS dan kuartal III-2025 sebesar 6,4 miliar dolar AS. “Arus masuk modal adalah bagian yang menjadi masalah, bukan perdagangan,” ujarnya.
Di sisi lain, kinerja perdagangan Indonesia dinilai masih solid dengan surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga November 2025. “Perdagangan bukanlah masalah utama saat ini. Surplus perdagangan cukup kuat pada 2025 dan neraca transaksi berjalan juga positif,” lanjut Pranjul.
Ke depan, pergerakan rupiah akan terus dipantau ketat, terutama terkait langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas melalui intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, serta komunikasi kebijakan yang efektif. Pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap volatilitas global yang masih tinggi di awal tahun ini.