MOSKOW, RUSSIA – Rusia menyerahkan apa yang diklaim sebagai bukti fisik kepada Amerika Serikat untuk menunjukkan bahwa Ukraina berupaya menyerang kediaman Presiden Vladimir Putin dengan drone Kamikaze pada akhir Desember lalu. Langkah ini diambil meski Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dan sejumlah pejabat Barat secara tegas menolak narasi Rusia dan menyebutnya sebagai disinformasi yang berpotensi mengganggu proses perdamaian.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, Kepala Intelijen Militer Rusia (GRU), Laksamana Igor Kostyukov, secara langsung menyerahkan kontroler navigasi dari drone yang ditembak jatuh kepada atase militer Amerika Serikat di Moskow. Video penyerahan perangkat tersebut dirilis oleh kementerian. Pejabat Rusia menyatakan data yang berhasil didekripsi dari alat itu menunjukkan target serangan adalah kompleks kediaman Presiden Putin di wilayah Novgorod, terkait insiden pada 29 Desember yang melibatkan 91 drone Ukraina.
Penyerahan bukti tersebut terjadi dua hari setelah CIA melaporkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Ukraina tidak menargetkan Putin maupun kediaman presiden mana pun. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, intelijen Amerika Serikat menyimpulkan drone-drone Ukraina ditujukan ke instalasi militer lain di wilayah Novgorod, bukan ke area dekat Danau Valdai yang menjadi lokasi kediaman Putin. Direktur CIA John Ratcliffe menyampaikan temuan tersebut langsung kepada Trump pada 31 Desember.
Ukraina membantah keras tuduhan Rusia. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut klaim tersebut sebagai fabrikasi lengkap yang dirancang untuk membenarkan serangan tambahan terhadap Ukraina serta merusak negosiasi perdamaian. Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina menyoroti sejumlah ketidakkonsistenan dalam bukti Rusia, termasuk tidak adanya rekaman aktivitas pertahanan udara di sekitar kediaman yang dimaksud, absennya footage drone jatuh di lokasi yang diklaim, serta data korban yang dinilai tidak selaras.
Perseteruan ini memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Insiden tersebut terjadi tak lama setelah Trump bertemu Zelenskyy di resor Mar-a-Lago, di mana keduanya menyatakan adanya kemajuan signifikan menuju kesepakatan damai. Sikap Trump juga terlihat berubah dalam waktu singkat. Awalnya ia mengaku sangat marah setelah menerima klaim serangan dari Putin melalui sambungan telepon, namun beberapa hari kemudian ia tampak lebih ragu dengan membagikan editorial New York Post yang menuding Rusia menghambat perdamaian.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, turut menolak klaim Rusia. Melalui media sosial, Kallas menyatakan tudingan Moskow bahwa Ukraina menargetkan situs-situs pemerintah utama di Rusia merupakan gangguan yang disengaja. Ia menilai Rusia berupaya menggagalkan kemajuan nyata menuju perdamaian yang diupayakan Ukraina bersama mitra Baratnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengindikasikan dugaan insiden tersebut dapat mendorong Moskow untuk mengevaluasi ulang posisinya dalam pembicaraan damai yang difasilitasi Amerika Serikat.
Konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung bertahun-tahun terus memanas, dengan tuduhan saling serang menggunakan drone menjadi isu sensitif yang berpotensi mempersulit mediasi internasional. Hingga kini, belum ada bukti independen yang secara mutlak menguatkan klaim dari salah satu pihak.