WASHINGTON — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan, meski sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata sementara untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama empat bulan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran dengan menyatakan bahwa Iran dapat menghadapi konsekuensi yang jauh lebih besar apabila Washington memutuskan meningkatkan operasi militernya.
Pernyataan tersebut muncul setelah militer Amerika kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran menyusul insiden penyerangan terhadap kapal tanker berbendera Panama di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
“Akan tiba saatnya kami tidak lagi bisa bersikap sabar, dan jika itu terjadi Republik Islam Iran tidak akan ada lagi,” tulis Donald Trump melalui media sosialnya seperti dikutip Reuters, Minggu (28/6/2026).
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menjelaskan operasi terbaru dilakukan sebagai respons atas dugaan agresi Iran terhadap pelayaran komersial internasional yang melintasi Selat Hormuz.
Target serangan disebut mencakup fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, hingga lokasi penempatan ranjau yang dinilai mendukung operasi militer Iran.
Pejabat pertahanan Amerika kemudian memastikan seluruh operasi terhadap sasaran di wilayah Iran telah selesai dilaksanakan.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan terdengar ledakan di wilayah Sirik, Iran selatan, tanpa memberikan rincian mengenai penyebab maupun tingkat kerusakan yang terjadi.
Pemerintah Iran menegaskan serangan balasan yang dilakukan merupakan tindakan defensif sebagai respons atas serangan udara Amerika terhadap wilayahnya.
Teheran juga mengklaim telah menyerang sejumlah sasaran yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika di kawasan Teluk.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Krisis
Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan terhadap kapal tanker pada Sabtu waktu Amerika, hanya dua hari setelah kapal kargo lain juga menjadi sasaran di jalur pelayaran yang sama.
Insiden tersebut memunculkan kembali kekhawatiran terhadap keamanan distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir mulai kembali normal.
Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan kapal tanker mengalami kerusakan pada bagian anjungan, namun seluruh awak berhasil selamat.
Koalisi keamanan maritim internasional kemudian menaikkan tingkat kewaspadaan setelah meningkatnya ancaman terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Hingga kini Iran belum memberikan konfirmasi langsung mengenai tuduhan menyerang kapal-kapal dagang.
Namun televisi pemerintah Iran menyebut Garda Revolusi menembakkan tembakan peringatan ke arah kapal-kapal yang melintas di jalur yang tidak memperoleh izin dari otoritas Iran.
Laporan itu juga menyebut sejumlah kapal kini memilih meminta izin kepada Iran sebelum memasuki Selat Hormuz.
Iran Tuding Amerika Langgar Kesepakatan
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat tidak menjalankan isi nota kesepahaman yang menjadi dasar penghentian konflik sementara.
Salah satu poin yang dipersoalkan adalah belum terwujudnya penghentian serangan di Lebanon yang sebelumnya dijanjikan dalam proses diplomasi.
Di sisi lain, Bahrain mengutuk serangan drone Iran yang diklaim menyasar wilayahnya.
Negara tersebut menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Iran juga menilai Washington masih mendukung kelompok-kelompok sekutu di kawasan sehingga memicu meningkatnya ketegangan regional.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut Amerika telah melanggar kesepakatan damai dengan terus menciptakan tekanan militer di Timur Tengah.
Hezbollah Tolak Kesepakatan Lebanon-Israel
Situasi di Lebanon juga belum menunjukkan tanda-tanda stabil.
Kelompok Hezbollah menolak kesepakatan terbaru antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat.
Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, menyebut perjanjian tersebut tidak memiliki legitimasi.
“Kesepakatan itu merupakan bentuk penyerahan diri dan tidak memiliki nilai hukum,” tegas Naim Qassem.
Militer Israel sendiri mengaku tetap melakukan operasi terhadap individu yang dianggap mengancam pasukannya di Lebanon selatan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menilai kesepakatan tersebut justru memberi ruang bagi Israel mempertahankan zona keamanan yang telah dikuasainya.
Amerika Salahkan Iran atas Memburuknya Situasi
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan Washington telah mematuhi seluruh isi kesepakatan gencatan senjata.
Menurutnya, Iran memiliki jalur diplomasi apabila terdapat perbedaan penafsiran terhadap pelaksanaan perjanjian.
“Iran telah menandatangani gencatan senjata dan kami menghormatinya. Jika mereka memiliki keberatan, gunakan jalur komunikasi. Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan,” ujar JD Vance.
Konflik terbaru kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global karena Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia.
Meski arus kapal sempat kembali normal dalam dua pekan terakhir sehingga harga minyak turun mendekati level sebelum perang, meningkatnya ketegangan berpotensi kembali mengganggu distribusi energi internasional.***