Sejak operasi militer dimulai pada 28 Februari 2026, pasukan Iran telah melancarkan serangan brutal terhadap sedikitnya 18 kapal komersial menggunakan drone peledak dan rudal.
Akibatnya, lalu lintas di Selat Hormuz anjlok drastis: dari rata-rata 138 kapal per hari menjadi hanya lima unit—dan tidak satu pun merupakan kapal tanker minyak. Hanya kapal berbendera China dan Iran yang kini berani melintasi perairan maut tersebut.
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pidato perdananya bersumpah akan terus menggunakan Selat Hormuz sebagai “tuas penekan” terhadap Barat. Garda Revolusi Iran (IRGC) pun memberi peringatan keras: setiap kapal yang terafiliasi dengan AS atau Israel akan dianggap sebagai target sah.
Dunia bereaksi dengan kepanikan finansial. Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 40%, menembus angka psikologis $100 per barel sejak awal Maret, bahkan sempat menyentuh $120.
Menanggapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, Badan Energi Internasional (IEA) mencetak sejarah dengan sepakat merilis 400 juta barel minyak dari cadangan darurat global. AS sendiri menyumbang 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis mereka untuk meredam guncangan pasar yang kian liar.
Militer AS tidak tinggal diam. Komando Pusat (CENTCOM) melaporkan telah menyerang lebih dari 6.000 target di dalam Iran, menghancurkan armada kapal perang, hingga membom terminal ekspor utama di Pulau Kharg.
Presiden Trump memberikan peringatan terakhir: infrastruktur minyak Iran masih “diampuni” untuk saat ini, namun posisi itu bisa berubah seketika jika blokade terus berlanjut. Di sisi lain, muncul sinyal ambigu dari Teheran ketika dua kapal tanker gas menuju India diizinkan lewat pada 13 Maret, menunjukkan bahwa posisi Iran mungkin mulai goyah di bawah tekanan militer yang luar biasa.
Dunia kini menanti dengan napas tertahan: apakah diplomasi akan menang, ataukah Selat Hormuz akan menjadi kuburan bagi stabilitas ekonomi global?