LABUAN BAJO – Optimisme terhadap pemulihan ekonomi nasional kembali mencuat. Bank Indonesia (BI) memprediksi kinerja ekonomi Indonesia akan menguat di paruh kedua tahun 2025.
Proyeksi ini didasari oleh sejumlah indikator positif, termasuk kebijakan stimulus pemerintah, tren ekspor yang menguat, serta pelonggaran kebijakan moneter.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya, menyampaikan bahwa sinyal pemulihan ekonomi semakin terlihat seiring dengan percepatan realisasi program sosial pemerintah serta stimulus fiskal yang lebih ekspansif.
Salah satu pendorong utamanya adalah pelaksanaan subsidi upah dan bansos tambahan yang dimulai pada pertengahan tahun ini.
“Karena penebalan bansos, subsidi upah dibayarkan Juni-Juli, subsidi transportasi yang dimaksudkan akan diberikan saat musim liburan.”
“Ini akan mendorong sektor tadi bergerak lebih tinggi,” ungkapnya dalam forum “Editors Briefing NTT 2025” di Labuan Bajo, Flores, NTT Jumat (18/7/2025).
Bank Indonesia juga mengambil langkah aktif untuk mendukung momentum pemulihan tersebut.
Penurunan suku bunga acuan BI Rate ke level 5,25 persen dilakukan guna menjaga stabilitas dan meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dan pasar.
“Kebijakan BI juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penurunan BI Rate, pelonggaran likuiditas.”
“Selain itu, peningkatan insentif makroprudensial ke perbankan guna mendorong kredit, pembiayaan ke sektor-sektor prioritas,” tambah Juli.
Lebih lanjut, sektor perdagangan luar negeri turut menjadi penyumbang utama penguatan ekonomi.
Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 tercatat mencapai USD4,3 miliar, naik signifikan dibanding bulan sebelumnya yang hanya USD0,2 miliar.
Produk ekspor unggulan seperti mesin listrik dan baja mencatatkan performa impresif.
“Data neraca perdagangan di bulan Mei itu cukup bagus. Terutama terkait mesin listrik dan besi baja,” ujarnya.
Situasi geopolitik yang mulai kondusif di Timur Tengah pascagencatan senjata antara Israel dan Iran, serta pelonggaran tarif impor oleh Amerika Serikat dari 32 persen menjadi 19 persen untuk barang-barang Indonesia, juga memberi efek positif terhadap prospek ekspor nasional.
“Ke depan ketidakpastian akan mereda. Kita harapkan ekspor kita akan meningkat seiring adanya ketidakpastian tarif,” kata Juli Budi.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada Semester II akan berada dalam jalur pemulihan yang lebih kuat.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 diperkirakan berada pada rentang 4,6 hingga 5,4 persen.
Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 4,87 persen secara tahunan.
Meskipun angka ini menunjukkan sedikit perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya, tren perbaikan dinilai akan kembali terjadi seiring berbagai sinyal positif yang mengemuka di Semester II.***