BEIRUT, LEBANON – Ketegangan di Lebanon Selatan kembali memanas setelah serangan pesawat nirawak (drone) Israel menargetkan sebuah sepeda motor di kota Aitaroun, menyebabkan seorang warga terluka pada Jumat (15/8/2025). Insiden ini menambah daftar panjang aksi militer Israel di wilayah tersebut, meski gencatan senjata dengan Hizbullah telah disepakati sejak November lalu.
Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), drone Israel menembakkan setidaknya dua rudal ke arah sepeda motor di Aitaroun. “Pesawat nirawak tersebut menembakkan sedikitnya dua rudal ke arah sepeda motor tersebut,” ungkap NNA.
Serangan ini terjadi di tengah aktivitas penerbangan pesawat Israel yang terus berlangsung di atas wilayah Nabatieh dan sekitarnya.
Peristiwa ini mencuri perhatian publik karena menunjukkan ketegangan yang belum mereda di perbatasan Lebanon-Israel. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, serangan sporadis seperti ini terus memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut.
Pasukan Israel diketahui masih aktif melancarkan operasi militer di berbagai wilayah Lebanon, termasuk serangan udara dan pengintaian.
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) turut mengecam tindakan Israel, khususnya menyusul pernyataan kontroversial Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tentang visi “Israel Raya”. “OKI Kecam Retorika Ekstremisme Netanyahu tentang Israel Raya,” demikian laporan NNA, menyoroti reaksi keras komunitas internasional terhadap kebijakan Israel.
Serangan ini juga memicu pertanyaan tentang efektivitas gencatan senjata yang ada. Konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah telah menyebabkan kerusakan signifikan serta memaksa banyak warga Lebanon mengungsi.
Data terbaru menunjukkan lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran di wilayah selatan dan pinggiran Beirut.
Hingga kini, pihak militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan di Aitaroun. Sementara itu, warga setempat dan kelompok hak asasi manusia terus mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan guna mencegah eskalasi lebih lanjut.