Dua raksasa pangan dunia, Nestlé dan Danone, akhirnya buka suara terkait dampak finansial mengerikan dari krisis kontaminasi susu formula bayi global. Dalam laporan tahunan mereka pekan lalu, kedua perusahaan berusaha menenangkan investor meski mengakui bahwa performa kuartal pertama 2026 akan “berdarah-darah.”
Kerugian Fantastis: Triliunan Rupiah Menguap
Nestlé mencatatkan kerugian paling dalam. Perusahaan asal Swiss ini melaporkan kehilangan dana sebesar CHF 185 juta (sekitar Rp3,27 triliun). Angka ini mencakup pengembalian penjualan sebesar Rp1,3 triliun dan penghapusan inventaris senilai Rp1,9 triliun.
Sementara itu, Danone memproyeksikan hantaman sebesar €35 juta hingga €70 juta (sekitar Rp591,5 miliar hingga Rp1,18 triliun) pada awal tahun ini. CFO Danone, Jürgen Esser, memperkirakan kejadian ini akan memangkas penjualan bersih mereka hingga 1%.
Akar Masalah: Bakteri dari Pemasok China
Krisis yang meluas ke lebih dari 60 negara ini bermula dari bahan baku minyak ARA (asam arakidonat) yang terkontaminasi cereulide—racun berbahaya dari bakteri Bacillus cereus. Investigasi melacak sumber masalah berasal dari pemasok di China.
CEO Nestlé, Philipp Navratil, menegaskan bahwa pemilihan pemasok tersebut bukan demi menekan biaya, melainkan untuk diversifikasi sumber bahan baku. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini, Nestlé menerapkan prosedur super ketat:
-
Audit Total: Setiap tetes minyak yang masuk ke pabrik wajib diuji laboratorium.
-
Double Check: Susu formula yang sudah jadi kembali diuji sebelum dilepas ke pasar.
Taruhan Reputasi: Apakah Konsumen Akan Kembali?
Meski optimis situasi akan normal pada Maret 2026, bayang-bayang keraguan masih menghantui. Analis dari Jefferies, David Hayes, memperingatkan bahwa Danone sangat rentan karena 17% keuntungannya bergantung pada susu formula di pasar China. Di sisi lain, jaksa di Prancis telah membuka penyelidikan resmi terkait cara perusahaan mengelola penarikan produk ini.
Namun, luka terdalam dirasakan oleh para orang tua.
“Begitu kepercayaan itu rusak, sulit untuk merasa aman menggunakan produk itu lagi,” ujar Paul Jamieson, seorang ayah di Inggris yang putrinya jatuh sakit setelah mengonsumsi produk Nestlé.
Bagi raksasa global ini, memulihkan angka di neraca keuangan mungkin mudah, namun memenangkan kembali hati para orang tua adalah perjuangan yang jauh lebih berat.