JAKARTA – Kebiasaan ngemil ternyata tak bisa dianggap sepele. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa menjadikan almond sebagai camilan harian dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, terutama bagi penderita sindrom metabolik.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition Research tahun 2025 mengungkap bahwa konsumsi sekitar 50 gram almond per hari—setara dengan 45 butir—dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan memperbaiki metabolisme tubuh.
Manfaat ini dirasakan secara khusus oleh individu dengan sindrom metabolik (MetS), yakni kumpulan kondisi seperti kelebihan lemak perut, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kolesterol baik (HDL) rendah, dan trigliserida tinggi. Kombinasi faktor ini meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.
Studi Klinis: Almond vs Crackers
Peneliti dari Oregon State University (OSU) merekrut 77 orang dewasa berusia 35–60 tahun yang mengalami MetS. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok mengonsumsi almond, sementara kelompok lainnya diberi camilan biskuit crackers, masing-masing setara 320 kalori per hari selama 12 minggu.
Hasilnya, kelompok almond menunjukkan perbaikan signifikan pada fungsi penghalang usus, terutama pada peserta dengan tingkat peradangan usus tinggi. Dua indikator utama peradangan usus—kalprotektin dan mieloperoksidase—menurun drastis. Sebanyak 11 dari 12 peserta mengalami penurunan kadar kalprotektin lebih dari 20 mikrogram/gram hanya dalam waktu empat minggu.
Namun, pada peserta dengan kondisi usus normal, konsumsi almond tidak menunjukkan perubahan berarti terhadap indikator tersebut.
Manfaat Tambahan: Kolesterol Turun, Lingkar Pinggang Menyusut
Selain memperbaiki kondisi usus, konsumsi almond juga berdampak positif pada profil lipid. Para peserta mengalami penurunan kadar kolesterol jahat (LDL) dan kolesterol total, serta penyusutan lingkar pinggang tanpa kenaikan berat badan.
Selama 12 minggu konsumsi almond, peserta juga mencatat:
- Peningkatan kualitas diet, terutama asupan vitamin E, serat larut, magnesium, dan lemak tak jenuh
- Peningkatan kadar α-tokoferol dalam plasma dan ekskresi α-CEHC dalam urin
- Perbaikan fungsi penghalang usus dan penurunan peradangan lokal
Namun, studi ini tidak menemukan perubahan signifikan pada biomarker peradangan sistemik seperti CRP, IL-6, atau stres oksidatif, serta tidak memengaruhi tekanan darah, kadar gula, insulin, trigliserida, dan HOMA-IR.
Kesimpulan: Camilan Sehat yang Berdampak Nyata
Peneliti menyimpulkan bahwa almond dapat menjadi strategi diet sederhana namun efektif, khususnya bagi penderita sindrom metabolik. Meski demikian, mereka menekankan perlunya studi lanjutan untuk menguji manfaat jangka panjang dan efeknya pada populasi yang lebih luas.
Mengganti camilan harian dengan almond bukan sekadar pilihan sehat, tapi juga langkah strategis untuk memperbaiki metabolisme dan mencegah penyakit kronis. Namun, bagi yang ingin menurunkan kolesterol melalui pola makan, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi.