Badan Pengatur Formula 1, FIA, resmi menyatakan gelaran Bahrain Grand Prix in Malaysia pada akhir pekan ini di Sirkuit Internasional Sepang berada dalam status ‘Heat Hazard’ (bahaya suhu panas).
Penetapan status ini berlaku secara otomatis ketika temperatur udara selama gelaran balapan diproyeksikan melampaui 31 derajat Celsius, yang memicu indeks kalkulasi ambang bahaya fisik bagi para pembalap.
Prakiraan cuaca di kawasan Sepang memprediksi kombinasi kondisi ekstrem berupa sengatan panas dan kelembapan tinggi, yang juga berpotensi diselingi badai hujan tropis secara mendadak. Malaysia menjadi balapan kelima dalam sejarah F1 yang menyandang status Heat Hazard, menyusul GP Singapura dan GP Amerika Serikat pada 2025, serta GP Austria dan GP Italia musim 2026 ini.
Solusi Rompi Pendingin (Cooling Vest) dan Regulasi Bobot
Regulasi keselamatan Heat Hazard memberikan opsi kepada para pembalap untuk mengenakan cooling vest (rompi pendingin) guna meredam suhu ekstrem di dalam kokpit.
Untuk memfasilitasi penggunaan teknologi ini, FIA menetapkan penyesuaian regulasi teknis mobil:
-
Bobot Minimum Mobil Ditambah 5 kg: Penambahan ini dialokasikan khusus untuk mengakomodasi perangkat tangki dry ice dan pompa cairan pendingin (glycol) yang dialirkan ke rompi tahan api pembalap.
-
Aturan Keseimbangan Beban (Ballast): Pembalap yang memilih untuk tidak mengenakan rompi pendingin wajib menambahkan bobot penyeimbang (ballast) sebesar 5 kg pada mobil mereka. Hal ini dilakukan agar tidak ada pembalap yang mendapatkan keuntungan dari pengurangan bobot mobil.
“Suhu di dalam kokpit saat balapan dalam kelembapan 90 persen bisa menyentuh 60 derajat Celsius—rasanya sudah seperti di dalam sauna. Konsep rompi pendingin ini sangat bagus dan kami semua menyambutnya,” ungkap Direktur Asosiasi Pembalap Grand Prix (GPDA), George Russell, yang sukses memenangi GP Singapura 2025 saat mengenakan rompi tersebut.
Meskipun demikian, penggunaan rompi pendingin tidak sepenuhnya disukai seluruh pembalap. Juara dunia Max Verstappen secara terbuka mengkritik perangkat tersebut karena dinilai kurang nyaman dan berpotensi menimbulkan masalah teknis jika dry ice habis di tengah balapan.
Pelajaran dari Tragedi GP Qatar 2023
Regulasi Heat Hazard ini pertama kali diperkenalkan sebagai respons atas tragedi fisik yang dialami para pembalap pada GP Qatar 2023. Saat itu, suhu udara yang terlewat ekstrem membuat sejumlah pembalap hampir pingsan dan membutuhkan penanganan medis darurat. Esteban Ocon bahkan sempat muntah di dalam helmnya, sementara Logan Sargeant terpaksa mundur dari balapan akibat dehidrasi parah.
Sebagai pembaruan regulasi pada musim 2026, FIA kini memiliki kewenangan untuk menetapkan status Heat Hazard secara terpisah antara sesi Sprint dan Main Race yang diumumkan paling lambat 24 jam sebelum balapan dimulai.