JAKARTA – Alexander Zverev mengakui posisi nomor satu dunia mulai masuk dalam pikirannya menjelang tampil di China Open 2026.
Petenis Jerman itu kini menempati peringkat kedua ATP dengan 9.630 poin, tertinggal 1.370 angka dari Jannik Sinner yang mengoleksi 11.000 poin.
Jarak tersebut memberi Zverev peluang memperkecil ketertinggalan karena Sinner dipastikan absen di Beijing akibat masih menjalani pemulihan cedera lutut.
Sinner belum bertanding sejak menjuarai Wimbledon pada Juli 2026, sehingga ketidakhadirannya kembali membuka persaingan menuju posisi teratas ATP.
Namun, Zverev menegaskan dirinya tidak ingin terlalu larut memikirkan kalkulasi peringkat sepanjang turnamen.
Menurut Zverev, fokus utama yang bisa dikendalikannya adalah tampil konsisten, mempersiapkan diri dengan baik, serta memenangkan pertandingan yang berada dalam kendalinya.
“Saya pikir itu adalah target bagi siapa pun,” kata Zverev saat membahas peluang merebut posisi nomor satu dunia, dikutip Tennis365, Rabu (30/9/2026).
“Pada awal musim, semua orang memperkirakan persaingan itu akan terjadi antara Carlos dan Jannik, jadi saya sangat senang bisa berada dalam pembicaraan tersebut.”
“Tentu saja, itu ada dalam pikiran saya, tetapi satu-satunya hal yang bisa saya kendalikan adalah bermain tenis dengan baik.”
“Saya akan berusaha tampil bagus di lapangan, merasa nyaman, melakukan semua yang saya bisa untuk mempersiapkan diri.”
“Hal lainnya akan mengikuti dengan sendirinya, karena ada faktor yang berada dalam kendali saya dan ada pula yang tidak.”
“Jadi, saya hanya akan berusaha fokus memenangkan pertandingan yang memang bisa saya menangkan.”
Performa Zverev sepanjang 2026 menjadi salah satu faktor utama yang membuat persaingan nomor satu kembali terbuka menjelang penghujung musim.
Petenis berusia 29 tahun itu telah meraih dua gelar Grand Slam tahun ini, yakni Roland Garros dan US Open.
Keberhasilan tersebut juga membuat Zverev memimpin Race to Turin dengan 8.650 poin, unggul 700 angka atas Sinner yang berada di posisi kedua.
Race to Turin berbeda dengan peringkat ATP karena sistem tersebut menghitung performa pemain sepanjang musim berjalan sebagai gambaran persaingan menuju ATP Finals.
Zverev juga mengungkap perubahan mental setelah akhirnya mendapatkan gelar Grand Slam pertama dalam kariernya.
“Setelah memenangkan French Open, pikiran Anda berubah karena Anda merasa sudah memenangkan satu gelar,” ujar Zverev.
“Setelah French Open, saya langsung mencapai final Wimbledon dan benar-benar merasa bahwa saya bisa menang lagi.”
“Sebelum meraih gelar pertama, terutama pada usia saya, selalu ada pertanyaan apakah hal itu akan pernah terjadi.”
“Namun, pertanyaan tersebut sudah tidak ada lagi.”
Zverev menilai perubahan tersebut terasa jelas ketika tampil di US Open karena tekanan yang dirasakannya berbeda dibandingkan saat bertanding di Roland Garros.
“Di French Open saya merasakan banyak tekanan dan kegugupan, sedangkan di New York saya lebih menikmati semuanya.”
“Saya menikmati berada di sana dan menikmati kesempatan bermain di final Grand Slam.”
“Saya benar-benar merasa berbeda dibandingkan ketika tampil di Grand Slam sebelumnya.”
Di China Open, Zverev datang sebagai unggulan teratas dan dijadwalkan menghadapi Cameron Norrie pada babak pertama.
Pertemuan tersebut menjadi ujian awal bagi Zverev untuk menjaga momentumnya sekaligus memperpendek jarak dengan Sinner dalam persaingan ranking ATP.
Turnamen ATP 500 Beijing berlangsung mulai 30 September hingga 6 Oktober 2026 dan menjadi salah satu panggung penting dalam perebutan posisi teratas.
Dengan Sinner absen, setiap kemenangan Zverev berpotensi memperbesar tekanan dalam persaingan menuju puncak ATP.
Namun, perebutan posisi nomor satu tetap bergantung pada akumulasi poin dan hasil turnamen berikutnya hingga akhir musim.***