Setelah operasi militer AS yang sukses menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden Donald Trump kini mengalihkan perhatiannya ke beberapa negara lain. Dalam berbagai pernyataan dan pidato baru-baru ini, Trump telah mengancam atau mengusulkan tindakan tegas terhadap Greenland, Kolombia, Kuba, Meksiko, dan Iran.
Langkah ini memicu spekulasi global tentang potensi konflik baru, dengan fokus pada isu keamanan, ekonomi, dan pengaruh geopolitik. Berikut daftar negara dan alasan Trump menargetkannya, berdasarkan pernyataan resmi dan analisis media.
1. Greenland
Greenland, wilayah otonom Denmark yang kaya sumber daya alam seperti mineral langka dan es kutub, menjadi target utama Trump karena ambisinya untuk “membeli” atau menguasai pulau tersebut. Trump pernah menyatakan minat ini sejak 2019, dan kini mengulanginya dengan ancaman aneksasi jika Denmark tidak kooperatif.
Alasan utamanya adalah strategis militer—untuk memperkuat kehadiran AS di Arktik melawan pengaruh Rusia dan China—serta akses ke cadangan air tawar dan mineral untuk teknologi hijau. Pernyataan terbaru Trump pasca-Venezuela menyebut Greenland sebagai “ancaman keamanan nasional” jika tidak di bawah kendali AS, memicu ketegangan dengan NATO karena Denmark adalah sekutu.
2. Kolombia
Kolombia, mitra dekat AS dalam perang melawan narkoba, kini diancam Trump karena dianggap gagal mengendalikan kartel obat bius dan migrasi ilegal ke AS. Trump mengkritik Presiden Kolombia atas peningkatan produksi kokain dan alur pengiriman narkoba melalui perbatasan, yang ia hubungkan dengan krisis fentanyl di AS.
Setelah Venezuela, Trump mengancam sanksi ekonomi atau intervensi militer jika Kolombia tidak meningkatkan kerjasama, termasuk ekstradisi pemimpin kartel. Ini bertentangan dengan hubungan historis yang kuat, di mana AS telah memberikan miliaran dolar bantuan melalui Plan Colombia, tapi Trump melihatnya sebagai “pengkhianatan” yang memerlukan tindakan tegas.
3. Kuba
Kuba menjadi target karena rezim komunisnya yang dianggap Trump sebagai “ancaman ideologis” dan pendukung Maduro di Venezuela. Trump memprediksi runtuhnya pemerintahan Kuba dalam waktu dekat, dengan rencana memperketat embargo ekonomi dan mendukung oposisi internal.
Ia membalikkan kebijakan pendekatan Obama, menambah sanksi pada sektor pariwisata dan remitansi, serta menuduh Kuba melakukan intervensi di Amerika Latin. Pasca-Venezuela, Trump melihat Kuba sebagai “domino berikutnya” yang harus jatuh untuk memastikan dominasi AS di Karibia, meski ini memicu kritik atas dampak kemanusiaan terhadap rakyat Kuba.
4. Meksiko
Meksiko tetap menjadi prioritas Trump sejak kampanye pertamanya, dengan fokus pada imigrasi ilegal, perdagangan narkoba, dan keamanan perbatasan. Setelah Venezuela, Trump mengancam tarif baru atau operasi militer lintas batas jika Meksiko tidak menghentikan arus migran dan kartel.
Ia menekankan pembangunan tembok perbatasan yang lebih luas dan renegosiasi USMCA untuk keuntungan AS. Alasan utamanya adalah krisis opioid dan keamanan nasional, di mana Trump menyalahkan Meksiko atas ribuan kematian akibat fentanyl, meski hubungan bilateral sempat membaik di masa lalu.
5. Iran
Iran dianggap Trump sebagai musuh utama di Timur Tengah karena program nuklirnya dan dukungan terhadap kelompok seperti Houthi di Yaman. Setelah keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA pada masa jabatan sebelumnya, Trump kini mengancam serangan militer atau sanksi lebih ketat pasca-Venezuela, yang ia hubungkan dengan aliansi Iran-Venezuela dalam minyak dan senjata.
Trump menyebut Iran sebagai “sponsor terorisme” dan berjanji untuk “menghancurkan” pengaruhnya, termasuk dukungan untuk Israel dalam konflik regional. Ini memicu kekhawatiran perang baru, meski Iran membantah tuduhan tersebut.
