KABUL, AFGANISTAN – Pemerintahan Taliban di Afghanistan menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan kepada Iran apabila Amerika Serikat melancarkan serangan militer. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara resmi Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam wawancara eksklusif dengan layanan radio berbahasa Pashto milik Radio Iran, yang dikutip pada Senin, 16 Februari 2026.
“Taliban akan membantu Republik Islam Iran jika terjadi serangan AS terhadap negara tersebut,” ujar Mujahid kepada media Iran.
Ia menambahkan bahwa rakyat Afghanistan siap menunjukkan simpati serta bekerja sama dengan Iran jika diminta bantuan. Namun, Mujahid menegaskan bahwa dukungan tersebut tidak akan menyeret Taliban ke dalam konflik langsung atau balasan militer terhadap Washington. Taliban menyatakan tidak menginginkan eskalasi perang antara AS dan Iran, serta lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomasi dan negosiasi berkelanjutan, khususnya terkait program nuklir Teheran.
Mujahid juga merujuk pada konflik sebelumnya dengan menyatakan bahwa Iran berhasil memenangkan perang 12 hari melawan Israel dan AS pada Juni lalu. Menurutnya, Iran akan kembali unggul jika menghadapi serangan serupa dari AS. “Iran akan menang lagi karena memiliki kemampuan, berada di pihak yang benar, dan memiliki hak untuk membela diri,” katanya.
Hubungan antara Iran dan Taliban kerap diwarnai ketegangan akibat perbedaan mazhab Syiah-Sunni serta sejarah konflik regional. Meski demikian, sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, kedua pihak berupaya membangun hubungan yang lebih pragmatis. Hal ini terlihat dari sejumlah pertemuan diplomatik, kerja sama keamanan perbatasan, serta koordinasi terkait isu bersama seperti pengungsi dan perdagangan.
Pernyataan Mujahid muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, menyusul konflik singkat Iran–Israel tahun lalu dan ancaman potensial serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Taliban tampaknya berupaya memosisikan diri sebagai aktor regional yang mendukung stabilitas, sambil menjaga jarak dari konfrontasi militer besar.
Hingga kini, belum ada respons resmi dari Washington maupun Teheran terkait pernyataan tersebut. Situasi ini menambah lapisan kompleksitas dalam dinamika geopolitik Asia Selatan dan Timur Tengah.