JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat pada pertengahan bulan ini, menandai babak baru hubungan ekonomi dua negara.
Kabar kesepakatan baru Indonesia-AS tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto seusai rapat kerja bersama Presiden dan jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2).
“Disampaikan bahwa Bapak Presiden rencananya akan menghadiri acara pada tanggal 19, dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART,” ujar Airlangga dalam konferensi pers.
Menurut Airlangga, pembahasan mengenai kerja sama dagang antara Indonesia dan AS rutin dilaporkan langsung kepada Presiden untuk memastikan strategi ekonomi berjalan sinkron dengan arah kebijakan nasional.
“Tadi dilaporkan juga kepada Bapak Presiden dan kita lihat perkembangan selanjutnya,” katanya, menegaskan bahwa perundingan masih terus berjalan hingga seluruh draf disepakati kedua pihak.
Kesepakatan ART merupakan hasil proses negosiasi tarif yang dimulai sejak 2024 dan diformalkan melalui deklarasi bersama pada 22 Juli 2025, di mana AS berkomitmen memangkas tarif impor produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.
Pada pertemuan lanjutan di Washington DC, 22 Desember 2025, kedua delegasi berhasil menyepakati substansi perjanjian yang mencakup peningkatan akses pasar serta penghapusan tarif impor pada sejumlah komoditas strategis seperti sawit, kopi, minyak kelapa, dan kakao.
Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berjanji mempercepat deregulasi untuk menekan hambatan nontarif yang kerap memperlambat arus perdagangan internasional.
Meski demikian, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah masih menunggu dokumen final sebelum penandatanganan dilakukan. “Kemudian, ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100 persen selesai,” jelasnya.
Selain isu perdagangan internasional, rapat juga membahas kondisi perekonomian nasional yang tetap solid, dengan neraca perdagangan mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut senilai USD 2,51 miliar.
Airlangga menekankan bahwa capaian tersebut menunjukkan kepercayaan pasar global terhadap fundamental ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.***