WASHINGTO, AS — Amerika Serikat mempercepat Pengerahan kekuatan militer di sekitar Venezuela. Kelompok tempur kapal induk USS Gerald R. Ford — kapal perang paling mutakhir di dunia — telah memasuki Laut Karibia sejak 16 November 2025, disertai lebih dari 15.000 personel angkatan laut dan marinir, lengkap dengan jet tempur siluman F-35C.
Langkah ini memicu kecaman keras dari kubu Kongres. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer pada Rabu (20/11) menuntut Menteri Luar Negeri Marco Rubio segera memberikan pengarahan rahasia kepada seluruh anggota Senat.
“Kongres mendapat sangat sedikit jawaban dari pemerintahan Trump tentang eskalasi yang cepat dan berpotensi berbahaya ini,” tegas Schumer dari lantai Senat. “Hingga saat ini, pemerintahan Trump telah gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan hukum untuk berkonsultasi dengan Kongres mengenai persiapan aksi militer di Venezuela.”
Schumer juga memperingatkan, “hal terakhir yang diinginkan rakyat Amerika saat ini adalah perang tanpa akhir lainnya.”
Operasi Southern Spear dari Penyergapan Narkoba Jadi Serangan Mematikan
Sejak September 2025, militer AS telah melancarkan 21 serangan bersenjata terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Pasifik Timur. Sebanyak 83 orang tewas dalam operasi yang disebut pemerintahan Trump sebagai “pemberantasan narko-teroris.”
Pada 13 November, Menteri Pertahanan Pete Hegseth resmi meluncurkan Operation Southern Spear. Hegseth menyebut misi ini bertujuan “membela Tanah Air kita, menyingkirkan narko-teroris dari Belahan Bumi kita.” Operasi ini menggabungkan kapal perang konvensional dengan drone pengintai dan sistem otonom canggih — jauh melampaui pendekatan tradisional Penjaga Pantai AS.
Venezuela Ditetapkan sebagai Organisasi Teroris
Pada 16 November, Menlu Marco Rubio mengumumkan Cartel de los Soles — yang dituding dipimpin langsung oleh Presiden Nicolás Maduro — akan resmi diklasifikasikan sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO) mulai 24 November 2025. Maduro dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
Diplomasi Rahasia di Tengah Ancaman Perang
Meski armada perang terus berdatangan, Presiden Donald Trump pada 16 November mengisyaratkan adanya komunikasi dengan Caracas. “Mereka ingin berbicara,” ujar Trump kepada wartawan, sambil menolak memberikan detail dan tetap tidak menutup kemungkinan intervensi militer.
The New York Times melaporkan pada 18 November bahwa Trump telah mengesahkan operasi rahasia CIA di dalam Venezuela, sekaligus membuka kembali saluran diplomasi belakang layar. Sumber yang mengetahui pembicaraan itu menyebut Maduro pernah menawarkan mundur setelah masa transisi 2–3 tahun, namun tawaran itu ditolak Gedung Putih.
Maduro: Invasi AS Akan Jadi “Akhir Politik” Trump
Dalam pidato nasional pada Senin (18/11), Nicolás Maduro memperingatkan bahwa setiap invasi militer AS akan menjadi “akhir politik” bagi Donald Trump. Ia menuduh lingkaran terdekat presiden AS sengaja memprovokasi konflik.
Sebagai respons, Venezuela menggelar latihan militer besar-besaran dengan mengerahkan sekitar 200.000 personel angkatan bersenjata.
Situasi di Laut Karibia kini semakin memanas, memunculkan kekhawatiran dunia internasional akan potensi konflik bersenjata baru di Amerika Latin.