JAKARTA – Pernapasan sering menjadi masalah saat berolahraga, terutama ketika melakukan aktivitas fisik berat. Sistem pernapasan kadang terasa tidak mampu mengimbangi kebutuhan oksigen tubuh yang meningkat. Untuk menghindari gangguan ini, disarankan untuk mengolah pernapasan dengan menggunakan teknik bernapas yang tepat selama berolahraga.
Salah satu teknik yang direkomendasikan adalah bernapas dengan perut, yang sangat bermanfaat dalam aktivitas aerobik. Judd Van Sickle, Direktur Program Kinerja dan Kesehatan Olahraga di UC Davis Health, menyatakan bahwa teknik ini dapat membantu tubuh memperoleh lebih banyak oksigen.
Ketika berolahraga, tubuh menghasilkan lebih banyak karbondioksida, yang memicu sistem pernapasan untuk bekerja lebih cepat. Brian Y Kim, seorang Profesor di University of California, Irvine, serta dokter tim untuk program atletik, menjelaskan, “Tubuh Anda akan menyesuaikan pernapasan sesuai dengan aktivitas dan kebutuhan oksigen Anda.”
Teknik bernapas dengan perut memanfaatkan diafragma untuk membantu tubuh mendapatkan oksigen lebih banyak. Untuk melakukannya, tarik napas melalui hidung dan rasakan bagaimana udara mengisi perut. Kemudian, hembuskan perlahan melalui mulut sambil memastikan leher dan bahu tetap rileks, yang akan mempermudah proses pengisian dan pengosongan paru-paru.
Selain bernapas perut, ada tips lain untuk menjaga ritme pernapasan yang stabil saat berolahraga. Salah satunya adalah menghindari bernapas lewat hidung. Meskipun teknik ini sering dianjurkan oleh banyak pelatih kebugaran, Kim menjelaskan bahwa pernapasan hidung lebih bermanfaat bagi penderita asma. Pada orang tanpa asma yang melakukan olahraga kardio, teknik ini dapat menyebabkan rasa sesak di dada atau “rasa udara lapar”, yaitu perasaan terengah-engah akibat kekurangan oksigen.
Setelah olahraga, jika pernapasan terasa pendek dan terengah-engah, teknik pernapasan kotak bisa membantu memperlambat laju pernapasan. Teknik ini melibatkan menarik napas selama empat detik, menahan napas selama empat detik, menghembuskan napas selama empat detik, dan menahan napas lagi selama empat detik. Anatolia Vick-Kregel, Asisten Direktur Senior Kesehatan dan Kesejahteraan di Rice University, menjelaskan bahwa menarik napas akan mempercepat detak jantung, sedangkan menghembuskan napas akan melambatkannya.
Untuk hasil yang optimal, penting untuk menjaga ritme pernapasan yang stabil selama olahraga, memastikan napas tidak terlalu pendek atau dangkal, dan membantu tubuh mendapatkan oksigen sebanyak mungkin.