JAKARTA – Di tengah meningkatnya tekanan mental di kalangan anak muda akibat tuntutan produktivitas tinggi dan perkembangan teknologi, komunitas Teman Jiwa hadir sebagai “teman untuk semua”. Komunitas ini fokus pada deteksi dini, edukasi, dan penyediaan ruang aman tanpa menggantikan peran psikolog atau psikiater.
Mengusung tema “Magnificent Journey“, Teman Jiwa resmi diluncurkan pada Sabtu (17/10/2026), di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Fachrul Rozi, Ketua Teman Jiwa, menjelaskan asal-usul komunitas ini. “Teman Jiwa sendiri ini adalah sebuah komunitas kesehatan mental yang di mana kami berfokus pada kesehatan mental itu sendiri. Kami bukan pengganti psikolog, pengganti psikiater, ataupun pengganti klinik kesehatan. Di sini kami hadir atas keresahan yang sudah kami rasakan sebelumnya,” ujarnya kepada Garuda TV.
Menurutnya, banyak orang yang kesulitan mencari bantuan karena rasa malu dan stigma negatif. “Kebanyakan orang-orang di Indonesia ini mereka tuh malu. Untuk seeking for help-nya… Mereka takut dianggap konotasi orang yang disabilitas kesehatan mental kan di Indonesia sendiri masih negatif. Kami yang ngejemput bola,” tegas Fachrul Rozi.
Kegiatan Teman Jiwa mencakup seminar, talk show, konseling gratis, screening awal, kampanye anti-bullying di sekolah, hingga program parenting. Mereka berjalan seiring program pemerintah untuk merangkul anak muda. “Kami yakin anak-anak muda ini nantikan mereka akan menjadi calon penerus bangsa kita. Di bonus demografi di tahun 2045 nanti, harapannya SDM kita, mentalnya sudah sehat semua,” tambahnya. Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan, termasuk bagi laki-laki: “Versi kami, lelaki justru harus cerita.”
Dukungan kuat datang dari Aldi Dwi Prastianto, Ketua Dewan Pembina Teman Jiwa. Ia menyoroti tantangan era AI dan informasi berlimpah. “Kita ke depan bukan hanya menjadi sumber informasi, tetapi harus juga menjadi pemandu informasi. Sebab informasi yang banyak hari ini tidak bisa kita cerna begitu saja,” kata Aldi dalam sambutannya.
Aldi menilai kesehatan mental krusial untuk visi Jakarta sebagai kota global yang produktif. “Mental itu bisa terjadi karena tingkat produktivitas yang tingg, sehingga akhirnya merasa bahwa mental itu kita merasa ter-downgrade. Nah oleh karena itu Teman Jiwa di sini hadir, bisa me-elaborasi antara para orang-orang yang memang membutuhkan ruang aman,” jelasnya.
Ia berharap komunitas ini terus menjadi mitra pemerintah. “Saya tentu sangat berharap Teman Jiwa di sini akan terus menjadi mitra. Saya juga menitip pada para pemangku kepentingan untuk dibina terus Teman Jiwa. Karena penting sekali komunitas ini ya gak berbayar, justru memberikan ruang kepada masyarakat untuk bisa berkontribusi aktif.”
Aldi juga mengaitkan kesehatan mental dengan pencegahan masalah sosial seperti penyalahgunaan narkoba yang sering berawal dari rasa resah dan kebingungan.
Dengan fokus pada pencegahan dini dan akses gratis, Teman Jiwa berupaya membangun generasi muda yang tangguh secara mental. Harapannya, melalui kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat, Indonesia bisa menyambut bonus demografi 2045 dengan sumber daya manusia yang sehat jiwa dan raga.