Drive to Survive Season 8 yang akan tayang 27 Februari mendatang siap membongkar sisi gelap Formula 1 yang jarang tersorot kamera: teror nyata di luar lintasan. Dalam episode bertajuk “Strictly Business”, mantan pembalap Alpine, Jack Doohan, mengungkap periode paling mengerikan dalam hidupnya saat berlaga di musim 2025.
Bukannya fokus pada kecepatan, Doohan justru harus bertarung dengan ancaman pembunuhan yang membayangi langkahnya menjelang Grand Prix Miami.
“Saya menerima ancaman serius yang mengatakan saya akan dibunuh jika tidak segera keluar dari mobil itu,” ungkap Doohan emosional. “Ada enam atau tujuh email yang mengancam akan memutilasi tubuh saya jika saya nekat membalap di Miami.”
Dikepung Senjata di Tengah Kota
Puncak horor terjadi pada hari Rabu sebelum balapan. Saat sedang bersama pacar dan pelatihnya, pembalap Australia berusia 23 tahun ini tiba-tiba dikepung oleh tiga orang bersenjata. Situasi mencekam itu baru bisa terkendali setelah ia menghubungi pengawalan polisi untuk menyelamatkannya.
Teror ini muncul di tengah panasnya rumor bahwa posisinya akan digeser oleh Franco Colapinto. Tekanan makin berat karena Doohan kabarnya hanya diberi “napas” selama enam balapan untuk membuktikan kemampuannya.
Fotografer kawakan Kym Illman menyebut bahwa alamat email pribadi Doohan bocor, membuat sang pembalap, pacarnya, hingga sang ayah—legenda MotoGP Mick Doohan—hidup dalam ketakutan luar biasa.
Akhir yang Pahit
Trauma tersebut terbukti merusak performanya. Meski sempat mengungguli Pierre Gasly di kualifikasi, balapan Doohan di Miami berakhir tragis di lap pertama setelah tabrakan dengan Liam Lawson. Itu menjadi kali terakhir ia duduk di kokpit Alpine.
Tim kemudian mengonfirmasi Colapinto sebagai penggantinya, meski sang pengganti pun gagal mencetak satu poin pun hingga akhir musim.
Pierre Gasly menggambarkan atmosfer di sekitar Doohan saat itu sebagai “sangat toksik,” sementara Charles Leclerc menyerukan agar komunitas F1 lebih menghormati privasi dan keselamatan keluarga pembalap.
Menatap Masa Depan di Haas
Setelah meninggalkan Alpine pada Januari 2026, Doohan kini memulai lembaran baru sebagai pembalap cadangan di Haas, mendukung Oliver Bearman dan Esteban Ocon. Meski mimpinya di Alpine hancur oleh teror, ia tetap tegar.
“Saya tidak sempat menikmati menjadi pembalap F1, sesuatu yang saya impikan sejak lama,” kenang Doohan. Namun, baginya, pengalaman pahit ini adalah pelajaran berharga untuk perjalanannya kembali ke kursi utama F1.