WASHINGTON, AS – Presiden Donald Trump menyatakan tidak menutup kemungkinan mengerahkan pasukan darat Amerika Serikat ke Iran jika situasi memerlukan. Langkah itu berpotensi mengubah serangan udara gabungan AS-Israel menjadi konflik darat skala penuh. Pernyataan ini muncul di tengah Operasi Epic Fury, yang diklaim Trump telah melumpuhkan puluhan pejabat senior Iran lebih cepat dari perkiraan awal.
Dalam wawancara eksklusif dengan New York Post pada Selasa (3/3/2026), Trump menegaskan kesiapannya untuk mengambil langkah ekstrem tersebut.
“Saya tidak ragu-ragu untuk mengirim pasukan darat—seperti yang dikatakan setiap presiden, ‘Tidak akan ada pasukan darat’. Saya tidak mengatakannya,” ujar Trump. “Saya mengatakan ‘mungkin tidak membutuhkannya’ atau ‘jika diperlukan’,” lanjutnya.
Menteri Perang Pete Hegseth mendukung sikap presiden dalam konferensi pers di Pentagon pada Senin pagi, meski menekankan belum ada personel AS di wilayah Iran saat ini. Hegseth menjelaskan pendekatan strategis pemerintahan untuk menghindari komitmen jangka panjang.
“Presiden Trump memastikan musuh kita memahami bahwa kita akan bertindak sejauh yang diperlukan untuk memajukan kepentingan Amerika. Tapi kita tidak bodoh dalam hal ini,” kata Hegseth kepada wartawan. “Anda tidak perlu mengerahkan 200.000 orang ke sana dan tinggal selama 20 tahun,” imbuhnya.
Trump juga optimistis mengenai jalannya operasi dan memperkirakan durasi konflik lebih singkat dari rencana semula. Kepada Daily Mail pada Minggu, ia menyebut perang mungkin berlangsung empat minggu, namun kemudian merevisinya saat berbicara dengan The New York Post.
“Ini akan berjalan cukup cepat,” katanya. “Kita tepat waktu, jauh lebih cepat dari jadwal dalam hal kepemimpinan—49 tewas—dan itu, menurut perkiraan kami, setidaknya empat minggu, dan kita melakukannya dalam satu hari,” ujarnya.
Presiden AS itu menepis kekhawatiran atas potensi balasan terorisme dari Iran pasca-serangan akhir pekan.
“Kita akan menghancurkannya. Apa pun itu. Seperti hal lainnya, kita akan menghancurkannya,” kata Trump.
Ia mengungkapkan keputusan akhir untuk melancarkan serangan bersama Israel diambil setelah pembahasan di Jenewa pada Kamis lalu. Langkah tersebut dipicu data intelijen yang mengindikasikan Teheran melanjutkan program nuklir secara rahasia di lokasi baru.
“Kami melakukan negosiasi yang sangat serius, dan mereka ada di sana, lalu mereka mundur. Itu akan selalu terjadi,” katanya. “Mereka ingin membuat senjata nuklir, jadi kami menghancurkan mereka sepenuhnya.”
Trump mengklaim pihaknya menemukan aktivitas pengayaan nuklir di lokasi berbeda setelah fasilitas sebelumnya dihancurkan.
“Kami menemukan mereka bekerja di area yang sama sekali berbeda untuk membuat senjata nuklir melalui pengayaan—jadi sudah waktunya,” paparnya. “Saya berkata, ‘Let’s go’.”
Meski sejumlah jajak pendapat menunjukkan dukungan publik rendah, Trump menilai tindakannya tepat dan mengklaim mendapat dukungan diam-diam dari masyarakat. Survei Reuters/Ipsos akhir pekan lalu mencatat 27 persen warga AS menyetujui serangan, 43 persen menolak, dan 29 persen ragu. Sementara polling CNN/SSRS pada Senin menunjukkan 41 persen persetujuan dan 59 persen penolakan.
“Saya pikir jajak pendapatnya sangat bagus, tetapi saya tidak peduli dengan jajak pendapat. Saya harus melakukan hal yang benar,” kata Trump. “Anda tidak bisa membiarkan Iran, yang dipimpin oleh orang-orang gila, memiliki senjata nuklir.”
Ia juga menyoroti akar konflik yang telah berlangsung puluhan tahun, termasuk pengeboman barak Beirut 1983 dan krisis sandera kedutaan AS di Teheran 1979–1981. Trump kembali mengkritik kesepakatan nuklir Iran era Presiden Barack Obama pada 2015 sebagai “kesepakatan terbodoh yang pernah dibuat”.
Eskalasi ini menambah ketegangan di Timur Tengah dengan potensi dampak global terhadap stabilitas kawasan dan harga energi. Pemerintahan Trump menegaskan langkah tersebut bertujuan mencegah proliferasi nuklir, meski menghadapi kritik domestik terkait risiko perang berkepanjangan.