JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menghentikan bantuan persenjataan dan militer AS untuk Ukraina. Tanpa bantuan negeri Paman SAM, Ukraina diperkirakan hanya bertahan 2 hingga 4 bulan dalam menghadapi Rusia.
Penasihat senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Mark Cancian mengatakan tanpa pasokan senjata, amunisi, dan perlengkapan militer dari AS, pasukan Ukraina akan kesulitan mempertahankan posisi mereka. “Menghentikan pengiriman bantuan AS memangkas sekitar setengah dari perolehan senjata, amunisi, dan perlengkapan Ukraina,” jelasnya.
Cancian, yang juga mantan perwira Korps Marinir AS, menambahkan bahwa dengan terus melanjutkan serangan intensif, Rusia diprediksi akan mampu menerobos pertahanan Ukraina dalam waktu singkat.
Kesulitan Bertahan Tanpa Bantuan Militer AS
Tanpa bantuan AS, pasukan Ukraina diperkirakan secara perlahan akan kehilangan kemampuan tempur mereka.
“Ukraina hampir tidak bisa bertahan dari serangan militer Rusia yang terus-menerus menggempur garis depan,” tambah Cancian.
Hal ini memberi gambaran suram mengenai prospek pertahanan Ukraina jika tidak ada perubahan dalam aliran bantuan senjata.
Keputusan untuk menghentikan bantuan militer ini mengarah pada ketegangan politik lebih lanjut, terutama setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Minggu malam menyatakan bahwa perang melawan Rusia masih akan berlangsung lama.
Pernyataan tersebut tidak diterima baik oleh Presiden AS Donald Trump, yang menanggapi dengan keputusan untuk menghentikan sementara bantuan.
“Presiden telah menjelaskan bahwa dia berfokus pada perdamaian, dan dia membutuhkan mitra yang juga berkomitmen pada tujuan itu. Kami menghentikan sejenak dan mengevaluasi guna memastikan bantuan tersebut berkontribusi untuk memberikan solusi,” ujar seorang pejabat AS terkait langkah ini.
Bantuan Militer AS Ditangguhkan
Penghentian bantuan militer ini mencakup semua senjata dan amunisi yang sedang dalam proses pengiriman atau yang sudah dialokasikan namun belum dikirimkan, yang bernilai ratusan juta dolar AS. Keputusan ini akan memberi dampak besar pada daya tempur pasukan Ukraina dalam menghadapi serangan Rusia yang terus berlangsung dengan intensitas tinggi.
Apakah Ukraina bisa bertahan lebih lama tanpa bantuan AS atau akan terpaksa tunduk pada kekuatan Rusia dalam waktu dekat? Pertanyaan ini semakin mendalam mengingat ketegangan yang terus meningkat, baik di medan perang maupun dalam diplomasi internasional.
