WASHINGTON DC, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menetapkan tarif 100% untuk semua film asing yang masuk ke pasar AS mulai 5 Mei 2025. Kebijakan ini bertujuan mendukung industri perfilman dalam negeri yang disebut Trump tengah mengalami kemunduran.
“Saya telah memerintahkan Departemen Perdagangan dan Perwakilan Dagang AS untuk segera memulai proses penerapan tarif 100% pada semua film yang masuk ke negara kita dan diproduksi di luar negeri,” ujar Trump dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari The Hollywood Reporter.
Alasan di Balik Kebijakan Tarif
Kebijakan ini merupakan bagian dari agenda proteksionisme ekonomi Trump yang dikenal dengan slogan “America First.” Menurutnya, industri film AS kehilangan daya saing akibat gempuran film asing yang membanjiri pasar. Dengan tarif ini, Trump berharap konsumen AS akan lebih memilih karya lokal, sehingga mendorong pertumbuhan produksi film dalam negeri dan membuka lapangan kerja baru.
Namun, pengumuman tersebut langsung memicu perdebatan sengit. Banyak pihak menilai kebijakan ini justru bisa merugikan industri perfilman AS yang sangat bergantung pada kolaborasi global. “Okay, sekarang semua orang bisa berhenti berpura-pura. Trump sepertinya sengaja ingin menghancurkan Amerika,” tulis seorang pengguna X dengan nada sinis.
Dampak pada Industri Film Global
Tarif 100% ini diperkirakan akan mengguncang pasar film internasional. Film-film dari Inggris, Kanada, Korea Selatan, hingga Bollywood India akan menghadapi kenaikan harga signifikan di AS, pasar film terbesar di dunia. Distributor asing kemungkinan akan kesulitan menembus pasar, sementara penonton AS harus merogoh kocek lebih dalam untuk menikmati film impor.
Studio besar Hollywood yang kerap bekerja sama dengan talenta dan dana dari luar negeri juga bisa terdampak. Produksi film berbiaya besar, seperti sekuel Avatar atau film dari Marvel Cinematic Universe, sering melibatkan kru dan lokasi syuting internasional. Kenaikan biaya akibat tarif ini dikhawatirkan akan mengurangi daya saing Hollywood di panggung global.
Reaksi Dunia dan Diplomasi Perdagangan
Kebijakan ini menambah panjang daftar tarif proteksionis Trump, yang sebelumnya telah menyasar produk tekstil, garmen, hingga komponen otomotif dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Sejak April 2025, AS telah menerapkan tarif resiprokal hingga 47% untuk tekstil Indonesia, memicu negosiasi intensif antara Jakarta dan Washington.
Negara-negara lain pun mulai bereaksi. China memperingatkan negara-negara yang bernegosiasi dengan AS agar tidak merugikan Beijing, sementara Kamboja memilih jalur diplomasi dengan menurunkan tarif ekspornya ke AS hingga 5% untuk produk tertentu.
Bagi penonton di AS, kebijakan ini bisa berdampak pada berkurangnya pilihan film di bioskop. Film-film populer seperti Parasite atau Train to Busan dari Korea Selatan, yang pernah meraih kesuksesan besar, mungkin akan sulit diakses atau hadir dengan harga tiket lebih mahal. Platform streaming seperti Netflix dan Amazon Prime, yang banyak mengandalkan konten internasional, juga berpotensi menghadapi tantangan distribusi dan biaya tambahan.
Meski demikian, sejumlah produser lokal di AS melihat kebijakan ini sebagai peluang untuk mengembangkan film independen dan cerita orisinal yang lebih mencerminkan budaya Amerika. “Ini saatnya kita bangkit dan tunjukkan bahwa film Amerika bisa bersaing,” kata seorang produser di Los Angeles yang enggan disebut namanya.
Tantangan ke Depan
Kebijakan ini masih dalam tahap awal implementasi dan akan melibatkan Departemen Perdagangan serta Perwakilan Dagang AS. Banyak analis memprediksi perlawanan dari mitra dagang AS, termasuk kemungkinan gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dampak ekonomi jangka panjang, seperti kenaikan harga barang impor lainnya, juga menjadi perhatian.
“Trump mengatakan lebih dari 70 negara telah menghubunginya untuk memulai negosiasi sejak kebijakan tarif resiprokal diumumkan,” tulis *BBC News Indonesia*, menyoroti besarnya respons global terhadap langkah AS.
Kesimpulan: Antara Peluang dan Ancaman
Kebijakan tarif 100% untuk film asing ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, Trump ingin melindungi industri film AS dan mendorong produksi lokal. Di sisi lain, langkah ini berisiko memicu perang dagang baru dan mengurangi keragaman budaya di layar lebar.