JAKARTA – Turkiye telah mengambil langkah antisipasi dengan membatalkan penerbangan ke beberapa negara Timur Tengah setelah serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer di Iran pada (13/6/2025). Tindakan ini dilakukan untuk mengurangi risiko keamanan di wilayah tersebut, yang semakin meningkat akibat ketegangan yang semakin memanas.
Menteri Perhubungan Turkiye, Abdulkadir Uraloglu, mengungkapkan bahwa wilayah udara Israel, Iran, Suriah, dan Irak sementara ditutup untuk lalu lintas udara setelah serangan tersebut. Penutupan ini bertujuan untuk menghindari potensi ancaman yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.
“Akibat serangan udara yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada dini hari tanggal 13 Juni 2025, wilayah udara Israel, Iran, Suriah, dan Irak ditutup sementara untuk lalu lintas udara karena meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut,” ujar Uraloglu melalui akun media sosialnya.
Uraloglu juga menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan awak pesawat menjadi prioritas utama bagi pihak berwenang. Sehubungan dengan hal ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan maskapai penerbangan terkait telah mengambil langkah-langkah untuk menata ulang rute penerbangan, menghindari penggunaan wilayah udara yang berisiko tinggi.
Maskapai penerbangan Turkiye, termasuk maskapai nasional Turkish Airlines, telah mengumumkan pembatalan penerbangan ke Iran, Irak, Suriah, dan Yordania hingga 16 Juni 2025. Uraloglu memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada penumpang atau personel yang terancam oleh situasi ini.
Serangan Israel pada 13 Juni 2025 menargetkan program nuklir dan kemampuan rudal jarak jauh Iran, dengan beberapa pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir turut menjadi korban. Israel melanjutkan serangannya pada hari berikutnya, menyerang kota Tabriz di barat laut dan kota Shiraz di selatan, serta fasilitas pengayaan uranium di Natanz, yang merupakan fasilitas nuklir terbesar dan utama di Iran.
Tindakan pembatalan penerbangan ini mencerminkan upaya Turkiye untuk memastikan keselamatan warganya dan mengurangi risiko di tengah ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.