Saat menunaikan ibadah haji, banyak jemaah yang menyempatkan diri untuk ziarah ke Gua Hira—sebuah tempat bersejarah dan penuh makna yang terletak di Jabal Nur, Makkah.
Meskipun tidak termasuk dalam rukun maupun wajib haji, kunjungan ke Gua Hira menjadi pengalaman spiritual yang mendalam bagi banyak jemaah. Pasalnya, tempat ini merupakan lokasi pertama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wasallam menerima wahyu dan risalah Islam.
Napak tilas Gua Hira menjadi bagian dari refleksi spiritual yang dilakukan oleh sejumlah petugas haji dan jemaah.
Gua Hira sendiri merupakan gua kecil yang terletak di Jabal Nur, sekitar enam kilometer dari Masjidil Haram. Gua ini memiliki panjang sekitar empat meter dan lebar satu setengah meter, dengan sebuah lubang kecil di sisi kanan yang menghadap langsung ke arah Ka’bah.
Jabal Nur dikenal sebagai gunung berbentuk punuk unta, dengan ketinggian mencapai 642 meter di atas permukaan laut. Medannya cukup terjal dan berbatu, dengan kemiringan mencapai sekitar 60 derajat dan puncaknya setinggi 200 meter.
Kunjungan ke Gua Hira bukanlah bagian dari rangkaian ibadah haji, melainkan napak tilas ke situs penting dalam sejarah Islam.
Ketua Penasehat Keagamaan PPIH Arab Saudi, Oman Fathurrahman, yang turut mendampingi rombongan petugas haji dalam kunjungan tersebut, menegaskan bahwa ziarah ke Gua Hira hanya bersifat spiritual dan historis. Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak termasuk dalam ritual ibadah haji yang bersifat syar’i.
Gua Hira di Jabal Nur menjadi salah satu situs penting dalam sejarah Islam dan kenabian.
Dari tempat kecil dan sunyi ini, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wasallam menerima wahyu pertama dari Allah SWT, yang menandai awal dari perjalanan risalah Islam ke seluruh dunia.
Laporan: Tim Garuda TV | Dari Makkah, Arab Saudi
Caption | Admin: Raihana