Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) mengambil sikap tegas untuk tidak membiarkan kematian junior mereka, dr. Myta Aprilia Azmy, berlalu begitu saja tanpa keadilan. Organisasi alumni ini menyatakan komitmen penuh untuk mengawal investigasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terhadap RSUD KH Daud Arif, Jambi, yang menjadi lokasi penugasan terakhir sang dokter muda.
Ketua IKA FK Unsri, dr. H. Achmad Junaidi, Sp.S(K), menegaskan bahwa pihaknya memantau ketat setiap jengkal langkah investigasi yang menyasar manajemen rumah sakit, rekan sejawat, hingga keluarga almarhumah.
Bongkar Fakta Mengerikan di Lapangan
Bukan sekadar duka, IKA FK Unsri dalam surat resminya mengungkap rentetan fakta yang menggetarkan. dr. Myta diduga terjebak dalam ekosistem kerja yang tidak manusiawi. Temuan awal menunjukkan bahwa almarhumah tetap dipaksa “bertempur” di lini depan meski kondisi fisiknya sudah memberikan sinyal bahaya sejak Maret lalu.
“Kami menemukan rangkaian fakta yang sangat mengkhawatirkan. dr. Myta sudah melaporkan gejala sakit, namun tetap dipaksa jaga malam dalam kondisi demam tinggi dan sesak napas,” bunyi kutipan tajam surat dari IKA FK Unsri, Sabtu (2/5/2026).
Beberapa poin krusial yang kini menjadi sorotan utama meliputi:
-
Eksploitasi Tenaga: Beban kerja berat tanpa jeda istirahat yang layak.
-
Sistem yang Lumpuh: Minimnya supervisi dari dokter pembimbing dan kosongnya stok obat-obatan esensial.
-
Budaya Bungkam: Adanya dugaan arahan untuk merahasiakan kondisi buruk di lapangan dari publik.
Ultimatum Jalur Hukum dan Anti-Intimidasi
Kondisi kritis dr. Myta yang sempat menyentuh saturasi oksigen di bawah 80 persen dianggap sebagai bukti nyata adanya kelalaian sistemik. IKA FK Unsri pun tidak hanya menuntut audit, tapi juga melontarkan ultimatum keras.
“Kami tidak menutup kemungkinan untuk menempuh jalur hukum jika ditemukan unsur pidana dalam kasus ini,” tegas pihak IKA FK Unsri.
Selain itu, mereka juga memberikan jaminan perlindungan bagi dokter internship lainnya agar tidak takut bersuara. Mereka memastikan bahwa tidak boleh ada intimidasi atau sanksi administratif bagi rekan sejawat almarhumah yang kini tengah berjuang di tengah beban kerja yang mencekam.
Harapan besar kini disandarkan pada tim investigasi Kemenkes yang akan turun ke lapangan. IKA FK Unsri mendesak agar pihak rumah sakit tidak bermain mata atau menutupi kenyataan pahit yang terjadi.
“Mudah-mudahan hasilnya sesuai kenyataan dan tidak ada yang ditutupi. Kami akan segera menentukan langkah hukum selanjutnya setelah hasil investigasi keluar,” pungkas dr. Junaidi dengan nada tegas.