YOGYAKARTA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono akhirnya memberikan penjelasan lengkap terkait kericuhan yang mewarnai forum diskusi bersama mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin malam, 15 Juni 2026.
Dalam keterangannya, Sudaryono menegaskan kehadirannya di kampus tersebut bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko semata-mata untuk membuka ruang dialog dengan kalangan akademisi.
Menurut Sudaryono, kegiatan yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM itu telah dipersiapkan jauh hari dan memperoleh izin resmi dari pihak kampus sehingga tidak dimaksudkan sebagai agenda politik maupun kegiatan tertutup.
“Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini,” ujar Sudaryono dalam keterangan pers.
Dialog Berjalan Lancar Sebelum Situasi Berubah Tegang
Sudaryono menjelaskan forum pada awalnya berlangsung normal dengan suasana yang terbuka bagi seluruh peserta yang ingin menyampaikan kritik maupun pertanyaan terkait kebijakan pemerintah.
Ia menekankan bahwa seluruh narasumber sejak awal telah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk menyampaikan pandangan secara langsung tanpa pembatasan.
“Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis,” katanya.
Selama kurang lebih 30 hingga 40 menit, diskusi berjalan sebagaimana mestinya sebelum muncul kelompok peserta yang meminta agar kegiatan dihentikan.
Menurut Sudaryono, sebagian besar mahasiswa sebenarnya masih ingin mengikuti dialog dan mendengarkan penjelasan para narasumber, namun situasi kemudian berkembang menjadi tidak kondusif.
“Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog,” ungkapnya.
Sudaryono Mengaku Mengalami Tindakan Fisik
Ketegangan yang meningkat di dalam ruangan membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
Sudaryono mengungkapkan dirinya dan Nusron Wahid tetap berupaya bertahan di lokasi karena meyakini komunikasi langsung merupakan cara terbaik untuk menjembatani perbedaan pandangan antara pemerintah dan mahasiswa.
Namun kondisi berubah setelah terjadi aksi pelemparan air mineral serta dugaan tindakan fisik terhadap dirinya.
“Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar,” ujarnya.
Meski demikian, Sudaryono membantah tudingan yang menyebut dirinya bersama rombongan meninggalkan lokasi karena menghindari kritik atau diskusi.
Ia menegaskan langkah keluar dari gedung dilakukan atas pertimbangan keamanan setelah suasana semakin memanas.
“Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” tegasnya.
Siap Turun Langsung Cek Persoalan Agraria
Dalam dialog lanjutan yang berlangsung di luar gedung, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik terkait persoalan pertanahan, konflik agraria, hingga dugaan penggusuran yang terjadi di berbagai daerah.
Menanggapi hal tersebut, Sudaryono mengaku terbuka untuk melakukan verifikasi langsung terhadap setiap laporan yang disampaikan.
Ia bahkan menyatakan kesiapannya mendatangi lokasi yang dipersoalkan guna memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya,” kata Sudaryono.
Pemerintah Prabowo Disebut Terbuka terhadap Kritik
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono menegaskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak anti kritik dan justru memandang masukan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses demokrasi.
Ia menilai perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar selama disampaikan dengan tetap menghormati pandangan pihak lain.
“Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain,” ujarnya.
Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang datang dengan harapan mengikuti diskusi secara konstruktif tetapi tidak dapat menikmati forum secara penuh akibat kericuhan yang terjadi.
“Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah akan terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat sebagai bagian dari komitmen menjaga demokrasi dan memperkuat partisipasi publik.
“Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan,” pungkasnya.
Awal Mula Kericuhan di Forum UGM
Sebelumnya, forum diskusi yang menghadirkan Nusron Wahid, Sudaryono, dan Budiman Sudjatmiko menjadi sorotan setelah puluhan mahasiswa melakukan aksi protes di tengah jalannya acara.
Aksi tersebut dipicu oleh kekecewaan sejumlah mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sejalan dengan semangat reformasi.
Saat forum memasuki sesi interaksi, Budiman Sudjatmiko sempat mengajak peserta menyampaikan kritik secara langsung dalam ruang diskusi.
“Silahkan kritik kami di sini, jangan di media sosial,” ucap Budiman.
Namun suasana kemudian memanas ketika sejumlah mahasiswa naik ke atas panggung sambil membentangkan spanduk bernada penolakan terhadap para pembicara.
Diskusi akhirnya dihentikan setelah terjadi aksi lempar gelas plastik berisi air mineral yang membuat kondisi ruangan semakin tidak terkendali.
Ketiga pejabat negara tersebut kemudian dievakuasi keluar area GIK UGM, tetapi ratusan mahasiswa telah berkumpul di luar lokasi dan berusaha meminta mereka tetap menemui massa.***