JAKARTA – Pawai obor menjadi salah satu tradisi yang paling identik dengan peringatan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram di Indonesia. Setiap menjelang pergantian tahun Hijriah, masyarakat di berbagai daerah berbondong-bondong turun ke jalan sambil membawa obor yang menyala. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berjalan bersama sambil melantunkan salawat, takbir, atau lagu-lagu religi sebagai bentuk syiar dan perayaan datangnya tahun baru dalam kalender Islam.
Meski sudah menjadi tradisi yang dikenal luas, tidak sedikit masyarakat yang masih bertanya-tanya mengenai asal usul pawai obor. Apakah tradisi ini berasal dari ajaran Islam secara langsung, atau merupakan budaya yang berkembang di tengah masyarakat Muslim? Untuk memahami jawabannya, perlu melihat sejarah dan makna yang melatarbelakangi tradisi tersebut.
Pawai Obor Bukan Tradisi yang Berasal dari Masa Nabi
Dalam sejarah Islam, tidak terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat merayakan pergantian tahun Hijriah dengan menggelar pawai obor. Kalender Hijriah sendiri baru ditetapkan secara resmi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sekitar tahun 638 M. Penetapan tersebut bertujuan untuk memudahkan administrasi pemerintahan dan menjadikan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai awal perhitungan tahun Islam.
Karena itu, pawai obor lebih tepat dipahami sebagai tradisi budaya masyarakat Muslim yang berkembang dari waktu ke waktu, bukan sebagai ibadah yang diwajibkan dalam agama. Tradisi ini muncul sebagai bentuk ekspresi kegembiraan dan sarana memperingati momentum penting dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Nabi Muhammad SAW.
Cahaya Obor Sebagai Simbol Penerangan
Salah satu alasan mengapa obor digunakan dalam perayaan 1 Muharram berkaitan dengan makna simbolis cahaya. Dalam banyak kebudayaan, cahaya sering dimaknai sebagai petunjuk, harapan, dan jalan menuju kebaikan.
Bagi masyarakat Muslim, cahaya obor sering dihubungkan dengan semangat hijrah, yaitu perubahan dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Obor yang menyala dianggap melambangkan penerangan hati dan kehidupan, sebagaimana ajaran Islam yang membawa petunjuk bagi umat manusia.
Makna tersebut kemudian menjadi pesan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika masyarakat mengikuti pawai obor, mereka tidak hanya berjalan bersama membawa api, tetapi juga diajak untuk merenungkan pentingnya memperbaiki diri dalam memasuki tahun yang baru.
Menurut sejumlah kajian budaya Islam di Indonesia, penggunaan obor juga menjadi simbol semangat menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan mempererat kebersamaan di tengah masyarakat. Tradisi ini berkembang sebagai bagian dari syiar Islam yang mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Berawal dari Tradisi Lokal yang Beradaptasi dengan Nilai Islam
Sejumlah peneliti budaya berpendapat bahwa pawai obor merupakan hasil akulturasi antara tradisi lokal dan nilai-nilai keislaman. Pada masa lalu, sebelum listrik tersedia secara luas, obor menjadi alat penerangan utama yang digunakan masyarakat saat melakukan kegiatan pada malam hari.
Ketika Islam berkembang di Nusantara, berbagai bentuk tradisi masyarakat kemudian dipadukan dengan peringatan hari-hari besar Islam. Salah satunya adalah penggunaan obor dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan pada malam hari. Seiring waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi pawai obor yang kini dikenal luas sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru Islam.
Proses akulturasi semacam ini bukan hal yang asing dalam sejarah Indonesia. Banyak tradisi keagamaan yang tumbuh melalui perpaduan antara budaya lokal dan nilai agama, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
Menjadi Sarana Syiar dan Kebersamaan
Selain memiliki makna simbolis, pawai obor juga berfungsi sebagai sarana syiar Islam. Ketika masyarakat berkumpul dan berjalan bersama sambil melantunkan salawat atau doa, kegiatan tersebut menjadi pengingat akan datangnya bulan Muharram yang termasuk salah satu bulan mulia dalam Islam.
Di banyak daerah, pawai obor melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengurus masjid, organisasi kepemudaan, sekolah, hingga pemerintah setempat. Keterlibatan banyak pihak menjadikan tradisi ini sebagai ajang mempererat hubungan sosial dan memperkuat rasa kebersamaan.
Bagi anak-anak dan remaja, pawai obor juga menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus edukatif. Mereka dapat mengenal sejarah Tahun Baru Islam dengan cara yang lebih dekat dan menarik dibandingkan hanya melalui pembelajaran di dalam kelas.
Tradisi yang Terus Dilestarikan
Hingga saat ini, pawai obor masih menjadi salah satu kegiatan favorit dalam menyambut 1 Muharram di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun bentuk pelaksanaannya terus berkembang, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan, yaitu semangat hijrah, persatuan, dan syiar Islam.
Di beberapa daerah, penggunaan obor tradisional bahkan mulai dikombinasikan dengan lampu LED atau perlengkapan yang lebih aman demi mengurangi risiko kebakaran. Namun, esensi kegiatan tersebut tetap sama, yaitu menghadirkan cahaya sebagai simbol harapan dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Pawai obor pada malam 1 Muharram bukanlah tradisi yang berasal langsung dari masa Nabi Muhammad SAW, melainkan budaya masyarakat Muslim yang berkembang sebagai bentuk peringatan Tahun Baru Islam. Tradisi ini lahir dari perpaduan antara kebiasaan lokal dan nilai-nilai keislaman yang menekankan pentingnya hijrah, persatuan, dan penyebaran kebaikan.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, pawai obor mengandung pesan bahwa setiap pergantian tahun Hijriah merupakan kesempatan untuk melakukan refleksi diri dan memperbaiki kehidupan. Cahaya obor yang menerangi jalan pada malam hari menjadi simbol harapan agar umat Islam senantiasa berjalan menuju arah yang lebih baik di tahun yang baru. (ACH)