JAKARTA — Indonesia dan India membuka peluang baru untuk memperkuat kerja sama industri strategis melalui pengembangan teknologi, manufaktur, dan rantai pasok.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza membahas peluang tersebut bersama Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan India Jitin Prasada di Jaipur.
Pertemuan bilateral itu digelar di sela 10th BRICS Industry Ministers’ Meeting yang mempertemukan para pemangku kebijakan industri negara anggota BRICS.
Pembahasan mencakup semikonduktor, industri hijau, kendaraan listrik, industri agro, serta transformasi digital yang dinilai memiliki prospek besar.
Faisol menilai Indonesia dan India mempunyai karakter industri yang saling melengkapi serta ditopang pasar domestik yang besar.
“Kami berharap pertemuan ini dapat semakin mempererat hubungan kedua negara. Sekaligus membuka peluang kolaborasi industri yang lebih konkret, implementatif, dan saling menguntungkan,” ujar Faisol dalam keterangannya, Selasa, 25 Agustus 2026.
Kerja sama tersebut diarahkan tidak sekadar memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga membangun rantai pasok industri yang lebih tangguh di kawasan Indo-Pasifik.
Hubungan ekonomi Indonesia dan India sebelumnya telah berkembang melalui perdagangan, investasi, kesehatan, farmasi, hilirisasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Nilai perdagangan kedua negara sepanjang 2025 mencapai USD23,16 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD18,32 miliar dan impor USD4,84 miliar.
Meski demikian, ekspor produk industri pengolahan nonmigas Indonesia ke India menghadapi tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, perluasan akses pasar menjadi salah satu perhatian penting dalam pembahasan untuk mendorong kembali kinerja ekspor manufaktur Indonesia.
India menyambut positif usulan Indonesia untuk mengembangkan kolaborasi yang lebih konkret pada sejumlah sektor industri strategis.
Semikonduktor menjadi salah satu sektor utama karena komponennya dibutuhkan industri elektronika, otomotif, telekomunikasi, energi, hingga teknologi digital.
Indonesia juga melihat peluang pengembangan industri hijau dan kendaraan listrik sebagai bagian dari transformasi menuju manufaktur yang lebih berkelanjutan.
Di sektor digital, kedua negara membahas peluang kolaborasi dalam otomatisasi, kecerdasan buatan atau AI, smart manufacturing, serta pengembangan data center.
India turut menyampaikan perhatian mengenai kebijakan pembatasan kuota impor terhadap sejumlah produk asal negaranya di pasar Indonesia.
Isu tersebut akan diteruskan pemerintah Indonesia kepada kementerian terkait untuk menjadi bahan pembahasan lebih lanjut.
Momentum kerja sama ini semakin strategis setelah Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS, sehingga ruang kolaborasi dengan India dan negara anggota lainnya semakin terbuka.
Kemitraan Indonesia-India diharapkan mampu menarik investasi, mempercepat transfer teknologi, memperluas pasar, dan memperkuat kapasitas manufaktur nasional.
Kolaborasi tersebut juga berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.***



