JAKARTA – Piala Dunia FIFA selalu menjadi ajang sepak bola paling bergengsi di dunia. Setiap empat tahun sekali, miliaran penggemar menantikan turnamen yang mempertemukan negara-negara terbaik dalam persaingan memperebutkan trofi paling prestisius di dunia sepak bola. Namun, menjelang dan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026, muncul sejumlah kritik yang menilai bahwa turnamen ini tidak semenarik edisi-edisi sebelumnya.
Penilaian tersebut tentu bersifat subjektif. Banyak pihak menyambut baik inovasi yang dilakukan FIFA, tetapi tidak sedikit pula yang khawatir bahwa perubahan besar dalam format kompetisi justru mengurangi daya tarik yang selama ini menjadi ciri khas Piala Dunia.
1. Jumlah Peserta yang Terlalu Banyak
Perubahan paling mencolok pada Piala Dunia 2026 adalah bertambahnya jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim. FIFA menyebut langkah ini sebagai upaya memberikan kesempatan lebih luas bagi negara-negara dari berbagai konfederasi untuk tampil di panggung dunia.
Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa ekspansi tersebut dapat menurunkan kualitas kompetisi secara keseluruhan. Dengan bertambahnya slot peserta, lebih banyak tim dengan level permainan di bawah standar elite dunia dapat lolos ke putaran final. Akibatnya, potensi terjadinya pertandingan yang timpang menjadi lebih besar.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Beberapa kritik menyebut bahwa perbedaan kualitas antara tim unggulan dan tim debutan bisa menghasilkan pertandingan yang kurang kompetitif, sehingga mengurangi tensi yang biasanya menjadi daya tarik utama Piala Dunia.
2. Terlalu Banyak Pertandingan
Piala Dunia 2026 akan menghadirkan 104 pertandingan, meningkat drastis dibandingkan 64 pertandingan pada format sebelumnya. Selain itu, turnamen berlangsung selama sekitar 39 hari dengan tambahan babak 32 besar sebelum memasuki fase 16 besar.
Bagi sebagian penggemar, lebih banyak pertandingan memang berarti lebih banyak hiburan. Namun bagi yang lain, jumlah laga yang terlalu banyak justru dapat menimbulkan “kejenuhan turnamen”. Salah satu alasan mengapa Piala Dunia selalu terasa spesial adalah karena jumlah pertandingannya terbatas dan setiap laga memiliki bobot besar.
Ketika pertandingan bertambah hingga lebih dari seratus laga, beberapa penggemar khawatir bahwa atmosfer eksklusif dan rasa antusias menunggu pertandingan besar akan berkurang.
3. Fase Grup Dinilai Kehilangan Ketegangan
Pada format baru, dua tim teratas dari masing-masing grup serta delapan tim peringkat ketiga terbaik akan lolos ke babak gugur. Dengan kata lain, 32 dari 48 peserta berhak melanjutkan perjalanan setelah fase grup.
Kondisi ini memunculkan kritik bahwa fase grup menjadi kurang menegangkan. Pada edisi-edisi sebelumnya, satu kekalahan saja bisa sangat menentukan nasib sebuah tim. Kini, peluang lolos tetap terbuka meskipun sebuah tim finis di posisi ketiga.
Beberapa pengamat menilai sistem ini mengurangi urgensi pertandingan grup dan membuka peluang tim bermain lebih aman karena mengetahui bahwa finis di posisi ketiga pun masih bisa membawa mereka ke fase berikutnya.
4. Risiko Pertandingan Tidak Kompetitif
Semakin banyak peserta berarti semakin besar kemungkinan munculnya pertandingan dengan selisih kualitas yang lebar. Dalam beberapa kasus, tim kuat dapat menghadapi lawan yang secara pengalaman, kualitas pemain, maupun ranking FIFA terpaut jauh.
Bagi penonton netral, pertandingan yang terlalu mudah ditebak sering kali kurang menarik dibanding duel antara dua tim yang seimbang. Sebagian penggemar merasa bahwa Piala Dunia seharusnya menjadi panggung bagi tim-tim terbaik dunia, bukan sekadar turnamen dengan peserta sebanyak mungkin.
5. Beban Fisik Pemain Semakin Berat
Format baru juga menambah beban fisik para pemain. Tim yang berhasil mencapai final harus memainkan delapan pertandingan, lebih banyak dibanding tujuh laga pada format sebelumnya.
Di era sepak bola modern, pemain sudah menghadapi jadwal yang sangat padat bersama klub masing-masing. Penambahan pertandingan internasional meningkatkan risiko kelelahan, cedera, dan penurunan performa.
Kondisi ini dapat berdampak pada kualitas permainan di fase-fase akhir turnamen. Tim yang memiliki skuad lebih dalam mungkin akan diuntungkan dibanding tim yang bergantung pada beberapa pemain bintang saja.
6. Faktor Komersial Dinilai Terlalu Dominan
Sebagian kritik terhadap Piala Dunia 2026 juga berkaitan dengan alasan di balik ekspansi turnamen. Banyak pihak menilai bahwa penambahan peserta dan pertandingan lebih didorong oleh pertimbangan bisnis dibanding kebutuhan olahraga.
Lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak hak siar, sponsor, penjualan tiket, dan pendapatan komersial lainnya. Meski FIFA menegaskan bahwa perubahan ini bertujuan memperluas partisipasi global, sebagian penggemar tetap mempertanyakan apakah kualitas kompetisi menjadi prioritas utama.
Bahkan selama turnamen berlangsung, muncul kritik terkait harga tiket yang dianggap terlalu tinggi di beberapa pertandingan. Kekhawatiran tersebut semakin menguat ketika sejumlah laga terlihat memiliki kursi kosong meskipun digelar di negara dengan budaya sepak bola yang kuat.
Piala Dunia 2026 membawa perubahan terbesar dalam sejarah turnamen dengan 48 peserta, 104 pertandingan, dan format kompetisi yang lebih panjang. Di satu sisi, perubahan ini membuka kesempatan bagi lebih banyak negara untuk tampil di panggung dunia serta memperluas jangkauan sepak bola global. Namun di sisi lain, banyak penggemar dan pengamat menilai bahwa ekspansi tersebut berpotensi mengurangi kualitas persaingan, menurunkan ketegangan fase grup, serta membuat turnamen terasa terlalu panjang.
Apakah Piala Dunia 2026 benar-benar kurang menarik dibanding edisi sebelumnya? Jawabannya akan berbeda bagi setiap orang. Bagi pendukung format lama, eksklusivitas dan intensitas kompetisi adalah nilai yang sulit digantikan.
Namun bagi pendukung format baru, semakin banyak negara yang mendapat kesempatan tampil justru menjadi bukti bahwa sepak bola terus berkembang menjadi olahraga yang lebih inklusif dan mendunia. Yang pasti, perdebatan mengenai format Piala Dunia kemungkinan akan terus berlanjut bahkan setelah turnamen ini berakhir. (ACH)