JAKARTA – Persaingan pengaruh di tubuh sepak bola dunia kembali memanas setelah Nasser Al-Khelaifi menentang langkah terbaru Presiden FIFA Gianni Infantino.
Mengutip laporan HITC, Kamis (30/7/226), Al-Khelaifi kini menjadi figur sentral dalam perdebatan mengenai arah kebijakan komersial FIFA melalui posisinya sebagai Ketua European Club Association (ECA).
Pebisnis asal Qatar itu juga menjabat Presiden Paris Saint-Germain, Ketua Qatar Sports Investments, anggota Komite Eksekutif UEFA, Dewan FIFA, dan Chairman beIN Media Group.
Selama ini, hubungan Infantino dan Al-Khelaifi dikenal berjalan dinamis karena sama-sama memiliki kepentingan besar terhadap perkembangan industri sepak bola global.
Infantino berfokus memperluas pengaruh dan bisnis FIFA di tingkat internasional.
Sementara itu, Al-Khelaifi lebih menitikberatkan perlindungan kepentingan klub-klub elite Eropa serta ekosistem sepak bola di kawasan tersebut.
Meski beberapa kali berada di pihak yang sama dalam proyek besar, keduanya juga kerap berbeda pandangan mengenai masa depan kalender dan bisnis sepak bola internasional.
Konflik terbaru muncul setelah FIFA mengumumkan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).
FFE merupakan entitas komersial baru yang akan mengelola hak ekonomi sejumlah turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
FIFA disebut ingin melepas sebagian kepemilikan bisnis tersebut kepada investor swasta.
Nilai proyek mencapai 20 miliar dolar AS, atau sekitar Rp326 triliun dengan asumsi kurs terkini sekitar Rp16.300 per dolar AS.
ECA menilai pengumuman tersebut dilakukan secara sepihak tanpa melibatkan klub-klub yang menjadi bagian penting dalam kompetisi FIFA.
Dalam pernyataan resminya, ECA mengaku mengetahui proposal tersebut melalui pemberitaan media, sama seperti pemangku kepentingan lainnya.
ECA menilai langkah itu menunjukkan minimnya komunikasi terhadap organisasi yang mewakili lebih dari 850 klub sepak bola di Eropa.
ECA juga mengingatkan bahwa klub, pemain, dan komunitas sepak bola merupakan bagian utama dari seluruh kompetisi yang diselenggarakan FIFA.
“Klub Sepak Bola Eropa mencatat dengan keprihatinan serius adanya pengarahan kepada media dan pengumuman sepihak FIFA mengenai kemungkinan pembentukan struktur perusahaan baru untuk mengomersialisasikan sejumlah kompetisi sepak bola.”
“Sebagai lembaga yang mewakili lebih dari 850 klub sepak bola, yang klub anggotanya, para pemain, dan komunitasnya merupakan peserta utama sepak bola dunia, termasuk dalam seluruh kompetisi FIFA, sudah sepatutnya ECA dilibatkan sepenuhnya dalam pembahasan proposal sebesar ini.”
“ECA mengetahui proposal tersebut dengan cara yang sama seperti sebagian besar pemangku kepentingan sepak bola dunia, yakni tanpa pemberitahuan sebelumnya dan hanya melalui media.”
ECA menegaskan selalu berupaya bekerja sama dengan FIFA, UEFA, konfederasi, asosiasi nasional, liga, pemain, dan suporter.
Organisasi itu meminta seluruh pihak mengedepankan dialog terbuka sebelum mengambil keputusan yang berdampak besar terhadap masa depan sepak bola.
“Kami mengajak semua pihak untuk tetap tenang dan melakukan konsultasi secara menyeluruh terhadap setiap kebijakan yang memengaruhi ekosistem sepak bola, disertai tata kelola yang lebih transparan demi menjaga keberlanjutan olahraga ini dalam jangka panjang.”
Menurut ECA, pendekatan yang transparan menjadi fondasi penting untuk membangun stabilitas, keberhasilan, dan keberlanjutan sepak bola global.
Penolakan ECA juga mendapat dukungan dari UEFA serta sejumlah asosiasi sepak bola nasional, termasuk Federasi Sepak Bola Inggris (FA).
Mereka sama-sama mengkritik FIFA karena mengumumkan proyek bernilai ratusan triliun rupiah tersebut tanpa proses konsultasi dengan pemangku kepentingan utama di Eropa.***



