JAKARTA – Bencana gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang Venezuela terus menelan korban jiwa, sementara upaya pencarian penyintas memasuki fase paling krusial dengan dukungan ribuan personel penyelamat dari berbagai negara.
Hingga Sabtu, 27 Juni 2026, jumlah korban meninggal akibat dua gempa besar yang mengguncang wilayah pesisir Venezuela pada Rabu lalu telah melampaui 1.400 orang, sementara proses evakuasi masih berlangsung di sejumlah lokasi yang dipenuhi reruntuhan bangunan.
Wilayah La Guaira dan sebagian Caracas menjadi pusat operasi penyelamatan setelah ratusan bangunan runtuh akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang diikuti ratusan gempa susulan.
Tim penyelamat bersama warga terus bekerja tanpa henti menggali puing-puing bangunan untuk menemukan korban yang masih mungkin bertahan hidup.
Sejumlah keluarga korban mengaku harus melakukan pencarian secara mandiri karena keterbatasan alat berat dan lambatnya penanganan di beberapa titik terdampak.
Mengutip laporan Reuters, Minggu (28/6/2026), pemerintah Venezuela mengonfirmasi lebih dari 1.600 personel penyelamat internasional telah tiba dari berbagai negara, sementara tambahan tim kemanusiaan masih terus berdatangan.
Bantuan internasional tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Argentina, El Salvador, hingga Meksiko yang mengirimkan tim penyelamat khusus menghadapi bencana.
Di kawasan Caraballeda, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah, helikopter militer Amerika Serikat terlihat terus mengangkut personel penyelamat menuju lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Di tengah operasi pencarian itu, kisah memilukan datang dari Alejandro Serrano, seorang insinyur berusia 33 tahun yang menempuh perjalanan dari San Cristobal demi menemukan adiknya, Ana Serrano, yang tinggal di apartemen Bahía Mar sebelum bangunan tersebut runtuh akibat gempa.
Alejandro mengaku telah mendatangi rumah sakit di Caracas dan menyerahkan seluruh identitas sang adik kepada tim penyelamat dari Argentina serta El Salvador agar proses pencarian dapat dilakukan lebih cepat.
“Saya berharap mereka tidak menemukannya di bawah reruntuhan, karena itu berarti masih ada harapan dia selamat, tetapi saya harus menemukan adik saya,” ujar Alejandro Serrano.
Warga Bertahan di Jalanan
Gempa susulan yang masih terus terjadi membuat ribuan warga memilih bermalam di ruang terbuka karena khawatir bangunan yang telah retak sewaktu-waktu roboh.
Di kawasan Valle del Pino, Los Corales, sebagian besar rumah memang masih berdiri, namun hampir seluruhnya mengalami kerusakan struktural.
Beisy Rivas, warga berusia 60 tahun, mengatakan hampir seluruh tetangganya memilih tidur di jalan sejak malam pertama gempa.
“Kami terus dihantui rasa takut setiap kali terjadi gempa susulan, sementara pikiran kami dipenuhi korban meninggal dan keluarga yang kehilangan orang tercinta,” kata Beisy Rivas.
Kesedihan serupa dirasakan Yendri Santana yang menyaksikan rumah kecil milik saudaranya hancur meski seluruh anggota keluarganya berhasil selamat.
Menurutnya, kehilangan tempat tinggal menjadi kenyataan pahit yang kini harus dihadapi banyak keluarga.
“Sangat menyakitkan melihat orang-orang bekerja keras sepanjang hidupnya, tetapi dalam hitungan detik kehilangan semuanya,” ujar Yendri Santana.
Akses Dibatasi demi Kelancaran Evakuasi
Pemerintah Venezuela masih memberlakukan pembatasan akses menuju La Guaira untuk memastikan kendaraan penyelamat dapat bergerak lebih cepat menuju lokasi terdampak.
Warga sipil yang tidak tergabung dalam tim resmi diwajibkan memiliki izin khusus untuk melewati sejumlah pos pemeriksaan.
Pasokan listrik di berbagai wilayah mulai pulih secara bertahap meskipun jaringan kelistrikan Venezuela selama beberapa tahun terakhir memang kerap mengalami gangguan akibat minimnya investasi dan tekanan ekonomi.
Lebih dari 55.000 Orang Masih Belum Terlacak
Meski pemerintah hanya melaporkan ratusan orang masih hilang atau terjebak, sebuah situs pendataan yang didukung kelompok oposisi mencatat lebih dari 55.000 orang belum diketahui keberadaannya.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban meninggal masih berpotensi bertambah dan bahkan dapat melampaui 10.000 jiwa, menjadikan tragedi ini sebagai salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah Amerika Latin.
Bantuan Internasional Terus Mengalir
Dunia internasional terus memberikan dukungan kemanusiaan kepada Venezuela untuk mempercepat proses penyelamatan dan pemulihan pascabencana.
Paus Leo di Vatikan turut menyampaikan doa bagi seluruh korban, keluarga yang ditinggalkan, serta para petugas yang masih berjibaku melakukan operasi penyelamatan.
Amerika Serikat juga telah mengirimkan bantuan darurat dan diperkirakan segera mengumumkan paket bantuan tambahan senilai ratusan juta dolar Amerika Serikat.
Sebelumnya, pemerintahan Amerika Serikat telah mengalokasikan bantuan sebesar US$150 juta, yang jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp16.500 per dolar AS, setara sekitar Rp2,48 triliun.
Paket bantuan baru yang sedang disiapkan diperkirakan bernilai lebih dari Rp3,3 triliun apabila mengacu pada nilai minimal US$200 juta, meski nominal resminya masih menunggu pengumuman pemerintah Amerika Serikat.
Di tengah situasi darurat tersebut, dinamika politik Venezuela juga menjadi perhatian karena pemerintahan sementara Presiden Delcy Rodriguez dinilai menghadapi ujian besar dalam menangani salah satu bencana paling mematikan yang pernah melanda negara itu.***