JAKARTA – Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) terus menjadi sorotan akibat kerugian finansial yang mencapai Rp5,8 triliun sejak 2024 hingga semester pertama 2025.
PT Kereta Api Indonesia (KAI), sebagai pemegang saham mayoritas melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), kini menghadapi tekanan keuangan yang signifikan akibat beban utang dan operasional proyek ini.
Berdasarkan laporan keuangan KAI per 30 Juni 2025 (unaudited), PSBI mencatat kerugian sebesar Rp4,195 triliun sepanjang 2024.
Kerugian ini berlanjut dengan tambahan Rp1,625 triliun pada semester I-2025. Sebagai pemegang 58,53% saham PSBI, KAI menanggung beban terbesar, termasuk kewajiban pembayaran utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, yang baru menjabat sejak 12 Agustus 2025, menyebut situasi ini sebagai ancaman serius. “Kami dalami juga masalah KCIC seperti yang disampaikan tadi memang ini bom waktu,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR pada Rabu, 20 Agustus 2025.
Proyek Whoosh, yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2 Oktober 2023, memiliki total investasi mencapai 7,2 miliar dolar AS (sekitar Rp116 triliun).
Biaya ini membengkak dari perkiraan awal 6,02 miliar dolar AS akibat cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar AS. Sebanyak 75% pembiayaan berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) senilai 5,415 miliar dolar AS, dengan bunga tahunan 2% untuk pokok utang dan 3,4% untuk cost overrun. Akibatnya, KCIC harus membayar sekitar 120,9 juta dolar AS per tahun.
Beban ini turut memengaruhi empat BUMN pemegang saham PSBI, yaitu KAI (58,53%), PT Wijaya Karya (33,36%), PT Jasa Marga (7,08%), dan PTPN VIII (1,03%).
Konsorsium China, yang menguasai 40% saham KCIC, terdiri dari lima perusahaan, termasuk China Railway International Company Limited dan CRRC Corporation Limited.
Ketua Komisi VI DPR, Anggia Emarini, menilai kinerja KAI seharusnya solid, namun terhambat oleh defisit akibat Whoosh. “Kereta Api sebenarnya tinggi, bisa laba, karena punya Whoosh jadi akhirnya defisit itu,” katanya dalam RDP. Anggota Komisi VI lainnya, Mufti Anam.
Mufti menekankan perlunya langkah konkret dari KAI untuk menyelesaikan utang KCIC secara mandiri. “Kami minta roadmap kereta Whoosh, bapak harus menguasai itu kalau tidak utang yang menjadi beban KAI akan besar. Kalau hanya mengandalkan Danantara untuk menyelesaikan utang ini, juga tidak baik karena ini kan akibat salah kebijakan, kemudian menjadi utang,” tegasnya.
KAI telah meminta bantuan Badan Pengelola Investasi Daya Anggara Nusantara (BPI Danantara) untuk menstabilkan keuangan KCIC.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa isu utang Whoosh telah masuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025, dengan proses penjajakan sedang dilakukan.
Meski telah mengangkut jutaan penumpang sejak beroperasi komersial pada 17 Oktober 2023, pendapatan Whoosh belum mampu menutup biaya investasi dan operasional yang tinggi.
Anggota Komisi VI DPR, Darmadi Durianto, memproyeksikan beban keuangan KAI bisa mencapai Rp4 triliun lebih pada 2025 dan bahkan Rp6 triliun pada 2026 jika tidak segera ditangani.
Pemerintah kini mengevaluasi rencana perpanjangan jalur Whoosh hingga Surabaya. Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan bahwa pengembangan akan dilanjutkan dengan model pembiayaan yang tidak membebani APBN.
Proyek Whoosh, yang awalnya dijanjikan tanpa beban APBN, kini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto.
