JAKARTA – Bayern Munich kembali menelan hasil mengecewakan di panggung Liga Champions setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Paris Saint-Germain dalam laga yang berlangsung di Allianz Arena.
Hasil tersebut bukan sekadar angka di papan skor karena penampilan Die Roten justru memunculkan banyak tanda tanya besar terkait mentalitas, strategi, hingga kesiapan fisik skuad racikan Vincent Kompany.
Sejak menit awal, PSG tampil jauh lebih tenang dan mampu mengendalikan ritme permainan tanpa kehilangan keseimbangan sedikit pun di lini tengah maupun pertahanan.
Situasi itu membuat Bayern terlihat seperti tim yang kehilangan identitas permainan agresif yang selama ini menjadi ciri khas mereka sepanjang musim.
Alih-alih menekan lawan, Bayern justru kesulitan keluar dari tekanan dan tampak lambat dalam membangun serangan.
PSG terlihat bermain dengan kedewasaan dan kontrol penuh, sementara Bayern seperti kehilangan energi dan ide.
Michael Olise Tenggelam, Lini Serang Bayern Mati Total
Sorotan tajam mengarah kepada Michael Olise yang tampil jauh di bawah ekspektasi dalam pertandingan krusial tersebut.
Winger asal Prancis itu sebelumnya menjadi motor kreativitas Bayern dan sempat merepotkan Nuno Mendes pada pertemuan sebelumnya melawan PSG.
Namun kali ini, Olise gagal menunjukkan pengaruh signifikan sepanjang pertandingan dan terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan.
Kondisi kelelahan diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya performa sang pemain setelah tetap dimainkan dalam laga kontra Mainz dan Heidenheim.
Beberapa umpan akhirnya mudah dipotong pemain PSG dan duel satu lawan satu pun gagal dimaksimalkan.
Di sisi lain, Konrad Laimer kesulitan menghentikan agresivitas Khvicha Kvaratskhelia yang terus memberi ancaman dari sektor sayap.
Joshua Kimmich juga gagal mendominasi lini tengah karena terus ditekan duet Vitinha dan Joao Neves.
Sementara itu, Jamal Musiala terlihat belum siap menghadapi intensitas permainan PSG dan gagal mengembangkan kreativitasnya di area berbahaya.
Manuel Neuer dan Harry Kane Jadi Sedikit Pengecualian
Di tengah buruknya performa Bayern, hanya Manuel Neuer dan Harry Kane yang dinilai masih mampu menjaga standar permainan.
Meski begitu, keduanya juga tidak tampil luar biasa karena hanya menjalankan tugas dasar yang memang diharapkan dalam laga sebesar semifinal Liga Champions.
Kondisi tersebut membuat Bayern tampak kehilangan semangat dan bermain terlalu lamban sepanjang pertandingan.
Tim terlihat seperti tertidur di pertandingan sebesar ini. Menjadi kritik keras yang muncul dari berbagai pengamat sepak bola Eropa.
Allianz Arena Tak Lagi Jadi Benteng Menakutkan
Masalah lain yang kembali mencuat adalah hilangnya aura angker Allianz Arena bagi Bayern Munich di kompetisi Eropa.
Untuk kedua kalinya secara beruntun musim ini, Bayern justru tampil gugup dan kehilangan kontrol saat bermain di kandang sendiri pada laga besar Liga Champions.
Sebelumnya mereka juga tampil tidak meyakinkan saat menghadapi Real Madrid di Allianz Arena.
Kini, PSG datang dengan permainan lebih matang dan berhasil membuat dukungan puluhan ribu suporter Bayern terasa sia-sia.
Walaupun skor akhir hanya menunjukkan selisih tipis, dominasi PSG sebenarnya jauh lebih terasa sepanjang laga berlangsung.
Bayern justru dinilai tampil lebih baik ketika bermain tandang dibanding saat mendapat dukungan penuh publik sendiri.
Tekanan mental bermain di kandang disebut mulai menjadi masalah serius yang harus segera diatasi oleh Kompany.
Masa Depan Vincent Kompany Mulai Dipertanyakan
Kegagalan Bayern tampil maksimal membuat kapasitas Vincent Kompany sebagai pelatih mulai mendapat sorotan besar.
Meski posisinya diyakini masih aman untuk beberapa musim ke depan, banyak pihak mulai mempertanyakan batas kemampuan Bayern di bawah arahannya.
Gaya bermain garis pertahanan tinggi milik Kompany diprediksi tidak akan berubah meski kerap membuat tim rentan menghadapi serangan balik cepat.
Masalah lain muncul karena strategi tersebut juga meningkatkan risiko cedera pemain sepanjang musim.
Pertanyaan besar pun mulai muncul mengenai bagaimana Bayern bisa melangkah lebih jauh dan mengalahkan tim elit seperti PSG atau Arsenal F.C. jika pendekatan taktik tidak mengalami perkembangan signifikan.
Menjadi empat besar Eropa mungkin belum cukup bagi klub sebesar Bayern Munich.
Alphonso Davies Beri Perubahan Positif
Di tengah performa mengecewakan tim, kehadiran Alphonso Davies dari bangku cadangan sempat memberi energi baru untuk Bayern Munich.
Kecepatan dan agresivitas Davies membuat permainan Bayern sedikit lebih hidup dibanding sebelumnya.
Namun kondisi kebugaran yang belum sepenuhnya fit diduga menjadi alasan Kompany tidak menurunkannya sejak menit awal.
Selain itu, keputusan wasit juga ikut memancing kontroversi setelah beberapa pelanggaran keras pemain PSG dianggap luput dari hukuman tegas.
Nuno Mendes bahkan dinilai layak menerima kartu merah lebih cepat dalam pertandingan tersebut.
Alarm Serius
Hasil imbang melawan PSG menjadi alarm serius bagi Bayern Munich yang mulai kehilangan dominasi di level tertinggi Eropa.
Performa lamban, minim kreativitas, hingga lemahnya mental bermain di kandang menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi Vincent Kompany.
Jika situasi ini terus berlanjut, Bayern berisiko kembali gagal memenuhi ambisi besar mereka untuk menguasai Liga Champions musim depan.***