JAKARTA – Iran diperkirakan akan menyerahkan tanggapan atas proposal Amerika Serikat kepada para mediator pada Kamis (6/5/2026), tengah intensifikasi upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
Proposal yang dilaporkan terdiri atas 14 poin itu mencakup pengayaan uranium, pelonggaran sanksi bertahap, pencairan danaa Iran yang dibekukan, serta pelonggaran pembatasan transit di Selat Hormuz selama periode negosiasi 30 hari.
Seorang pejabat senior Teluk mengatakan kepada CNN bahwa kemajuan telah dicapai dalam membangun kerangka kerja dasar. Presiden AS Donald Trump menegaskan kesepakatan dengan Iran “sangat mungkin” terjadi, menyebut adanya “pembicaraan yang sangat baik” dalam 24 jam terakhir.
Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menulis bahwa konflik dapat berakhir dan Selat Hormuz akan dibuka kembali jika Iran menerima persyaratan yang diusulkan. Namun, ia memperingatkan, penolakan terhadap kesepakatan akan memicu pemboman baru “pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.”
Kendala utama tetap pada tuntutan Washington agar Iran menghentikan program nuklirnya dan memindahkan persediaan uranium yang diperkaya ke luar negeri. Axios melaporkan, negosiasi mengenai moratorium pengayaan berpusat pada jangka waktu minimal 12 tahun, dengan kompromi 15 tahun disebut sebagai hasil paling mungkin.
Meski ada tanda-tanda kemajuan, sejumlah pejabat Arab dan Amerika menyuarakan kekhawatiran atas retorika Trump yang berulang kali menyerang pemimpin Iran. Mereka menilai, Teheran membutuhkan ruang politik untuk menyelamatkan muka di dalam negeri agar kesepakatan dapat diterima.
“Dia sangat ingin ini berakhir,” kata seorang pejabat senior Teluk Arab tentang Trump. “Tetapi Iran sejauh ini menolak untuk memberikan apa yang dia butuhkan untuk menyelamatkan muka dan pergi. Dan dia tampaknya tidak mengerti bahwa mereka juga perlu menyelamatkan muka.”
Trump belakangan menyebut pejabat Iran “gila” dan “sakit jiwa,” sembari mengancam “seluruh peradaban” Iran. Gedung Putih melalui juru bicara Kelly membela pendekatan tersebut, menekankan bahwa “Presiden hanya akan menerima kesepakatan yang mengutamakan keamanan nasional Amerika.”