Status sebagai penerima beasiswa LPDP 2023 yang seharusnya membanggakan, kini justru menjadi bumerang bagi wanita berinisial NNP. Pemilik akun threads ini mendadak jadi sasaran empuk amukan netizen setelah unggahannya di platform Threads dianggap pamer kemewahan menggunakan standar hidup yang tinggi, sekaligus merendahkan program strategis pemerintah.
Pamer 11 Poin “Anak Sultan” yang Bikin Netizen Geram
Kegaduhan ini bermula saat Afni membuat daftar alasan mengapa biaya membesarkan anak di zaman sekarang sangat mahal. Bukannya mendapat simpati, netizen justru menilai daftar tersebut sebagai ajang pamer barang-barang branded bin mewah.
Berikut adalah 11 poin kebutuhan anak yang dipamerkan wanita tersebut di Threads:
-
Lahiran di RSPI (Rumah Sakit Pondok Indah).
-
Skincare menggunakan merek premium Mustela dan Buds.
-
Kain bedong eksklusif Atelier Choux dan Aden+Anais.
-
Botol susu Hegen, dr Betta X Atelier Choux, dan Comotomo.
-
Alat pompa ASI (pumping) Medela dan Haakaa.
-
Kereta bayi (stroller) Bugaboo.
-
Tas popok (diaper bag) Jujube.
-
Gendongan bayi Ergobaby dan Mini Monkey.
-
Suplemen rutin harian: Vitamin D3, BioGaia, dan Nordic DHA.
-
“Soalnya anak gua.”
-
“Mengusahakan sekolah yang gak MBG (Makan Bergizi Gratis), takut keracunan HAHA.”
Di akhir unggahannya, ia menulis, “Ya, intinya, mahal karena poin 1. Makanya motto hidupku, kerja kerja kerja.”
Sentilan Pedas Soal Program MBG Berujung Rujakan
Poin terakhir dalam daftar itulah yang menjadi pemantik utama kemarahan netizen. Penerima LPDP tersebut secara terang-terangan menertawakan dan mengaku takut anaknya keracunan jika masuk ke sekolah yang menerapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG)—salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
Netizen langsung bergerak cepat menelusuri latar belakang wanita ini dan menemukan statusnya sebagai LPDP Awardee 2023 di bio Instagram pribadinya. Warganet menilai tindakan Afni sangat tidak etis dan tidak tahu terima kasih. Sebagai seseorang yang pendidikannya dibiayai oleh uang pajak masyarakat Indonesia, Afni dianggap tidak pantas menghina program kesejahteraan rakyat kecil.
Hingga saat ini, gelombang kritik terus mengalir deras. Banyak pihak menyayangkan bagaimana seorang intelektual penerima beasiswa negara bisa bersikap tidak bijak di media sosial, pamer kekayaan, sekaligus menunjukkan empati yang rendah terhadap program perbaikan gizi nasional.



