Unggahan foto yang memperlihatkan pola retakan tanah unik menyerupai akar pohon raksasa di kawasan Manatu, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak viral di media sosial. Retakan tersebut ramai dikaitkan dengan guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang menghantam Flores pada Sabtu (15/8/2026) lalu.
Salah satu akun di platform X mengunggah foto tersebut dengan narasi spekulatif bahwa pola retakan tersebut menandakan energi gempa besar yang siap “meledak” kembali secara massal. Narasi tersebut memicu kepanikan dan perdebatan di kalangan warganet.
Konfirmasi BMKG: Dampak Langsung Guncangan Gempa
Menanggapi kabar yang beredar, Penanggung Jawab Operasional Diseminasi Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Bayu Pranata, menegaskan bahwa retakan tanah tersebut murni merupakan fenomena geologi akibat kuatnya guncangan gempa.
“Berdasarkan konfirmasi terbaru, retakan tanah yang muncul di wilayah NTT memang benar merupakan dampak langsung dari guncangan gempa bumi besar M 7,7 yang berpusat di Mbay-Nagekeo pada Sabtu (15/8/2026) dini hari,” ujar Bayu kepada Kompas.com, Minggu (16/8/2026) malam.
Bayu meluruskan bahwa retakan tanah adalah hal yang lazim terjadi saat tanah menerima beban guncangan mekanis yang amat kuat, dan masyarakat diimbau untuk tidak menelan mentah-mentah spekulasi tanpa dasar ilmiah di media sosial.
Temuan Badan Geologi: Potensi Bahaya Ikutan dan Indikasi Likuifaksi
Senada dengan BMKG, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa gempa dangkal berkedalaman 15 kilometer tersebut memicu berbagai bahaya ikutan (collateral hazards), mulai dari ancaman tsunami, gerakan tanah, retakan struktur, hingga indikasi likuifaksi.
Selain retakan di tanah, tim Badan Geologi mengidentifikasi munculnya fenomena sand boil—yaitu semburan air yang membawa lumpur dan pasir dari dalam tanah—di kawasan Waekokak-Mbay.
“Likuifaksi terjadi ketika lapisan tanah jenuh air kehilangan kekuatannya secara drastis akibat guncangan gempa. Fenomena ini mengubah karakteristik tanah menjadi cair sementara, yang berpotensi menggoyahkan fondasi bangunan di atasnya,” jelas Lana.
Guncangan hebat gempa M 7,7 ini tercatat merusak sejumlah fasilitas publik dan pemukiman warga. Tembok rumah warga dilaporkan roboh di Maumere, Manggarai Barat, hingga Labuan Bajo. Kerusakan struktur juga dialami Pelabuhan Maumere, Hotel Jayakarta Bajo, serta munculnya retakan kecil di kawasan wisata Taman Nasional Komodo.
BMKG dan Badan Geologi kini telah menerjunkan tim teknis ke lapangan untuk melakukan survei saintifik guna memetakan tingkat kerentanan tanah secara mendetail. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat memberikan kepastian data yang akurat agar tidak memicu keresahan publik.



