JAKARTA – Kementerian Pertahanan menekankan pentingnya pelatihan respons darurat bagi wartawan yang meliput konflik bersenjata. Kemampuan menghadapi situasi kritis seperti tembakan dan ledakan dinilai dapat menyelamatkan nyawa.
Analis Kebijakan Madya (AKM) Bid Hub Medint Roinfohan Setjen Kemhan, Kol Inf Eko Pramono menjelaskan bahwa wartawan harus dibekali keterampilan dasar untuk merespons ancaman langsung di lapangan.
“Saat mendengar suara tembakan, langkah utama adalah tiarap atau jongkok di tempat terlindung, merayap atau bergerak mencari perlindungan, serta mengamati arah ancaman sebelum berpindah posisi,” tuturnya.
Selain itu, penguasaan pertolongan pertama menjadi keharusan, termasuk penanganan luka dan prosedur evakuasi darurat. Kemampuan ini dinilai dapat meminimalkan risiko cedera fatal sebelum bantuan medis tiba.
Pelatihan semacam ini dinilai sangat penting, terutama bagi wartawan pemula yang belum memiliki pengalaman peliputan di wilayah berisiko tinggi.