JAKARTA – Yamaha kembali gagal menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada MotoGP Hungaria, melanjutkan tren negatif yang sebelumnya terjadi di Austria. Fabio Quartararo hanya mampu finis di posisi ke-10, sementara Alex Rins menutup balapan pada urutan ke-13—masih dalam zona poin, namun jauh dari harapan tim pabrikan.
Rins mengalami kesulitan sejak awal balapan, kehilangan momentum yang membuatnya tak mampu bersaing pada fase akhir, meski saat itu ia mencatatkan waktu yang lebih kompetitif. Usai balapan, pembalap asal Spanyol itu mengungkapkan kebingungannya terhadap performa M1 yang justru menurun saat kondisi motor seharusnya optimal.
“Itu membuat saya marah. Karena di awal balapan, saya tidak bisa mencapai waktu di bawah 1:39 di sirkuit ini, dengan tangki penuh dan ban baru. Ketika ban habis, semuanya mulai bergerak lebih banyak, bahan bakar yang tersisa makin sedikit …. Saya bisa bertahan di 1:38. Itu agak sulit dijelaskan. Mereka juga tidak memberi saya penjelasan apa pun di pit,” ucapnya seperti dilansir dari Motorsport.
Rins mengaku sempat frustrasi karena kehilangan daya saing pada awal, tertinggal dari Ai Ogura dan Johann Zarco. Meski berhasil menjaga jarak dengan mereka pada paruh akhir, ia tetap tak mampu menyalip.
“Aneh, tapi bagus. Saya bisa melakukan balapan saya, sedikit tidak berdaya di awal, karena Ai Ogura dan Johann Zarco menjauh dari saya. Tapi kemudian, saya berhasil menjaga mereka (dekat), meninggalkan Alex Marquez dua detik di belakang, dan hanya itu.”
Masalah teknis juga menjadi sorotan. Rins menjelaskan bahwa motornya mengalami ketidakstabilan saat pengereman dan akselerasi, membuatnya harus mengerem lebih awal dibanding pembalap lain.
“Di awal balapan, saya tak bisa menghentikan motor saya. Saat saya merasakan getaran, itulah saat motor bertransmisi dan saya berhasil menghentikannya. Itu buruk, karena ada banyak ketidakstabilan dan saya harus mengerem beberapa meter sebelum yang lain. Tapi saat itulah, saya bisa menghentikannya,” jelasnya.
Setelah balapan, Rins berdiskusi dengan Max Bartolini dan Paolo Pavesio dari Yamaha, namun tak ada jawaban pasti soal masalah teknis yang dihadapi.
“Kami tidak tahu apa masalahnya. Baik saya maupun mereka. Di trek ini, kami sangat menderita. Dengan perangkat elektronik kami sangat tersesat, dan hari ini adalah segalanya… Saat menginjak gas, dibandingkan dengan yang lain, motor kami memantul.”
Ditanya soal sisi positif dari akhir pekan, Rins hanya menyebut satu hal: menerima kenyataan.
“Hal positif yang saya ambil adalah saya menerima rasa frustrasi, mengendarai motor dengan rasa frustrasi. Itu bukan satu-satunya hal positif, tetapi kami masih berada di garis yang sama, yaitu tidak mengerti. Yamaha juga tidak mengerti,” kilahnya.
Ia menegaskan bahwa Yamaha tidak boleh menunggu hingga regulasi baru MotoGP diberlakukan pada 2027, atau bahkan hingga musim depan saat mesin V4 dijadwalkan meluncur.
“Tidak, tidak, kami tidak bisa menunggu hingga 2027, atau hingga tahun depan, ketika pada prinsipnya motor baru akan hadir. Kami hanya harus terus bekerja. Memperbaiki perangkat elektronik itu rumit di akhir pekan balapan. Kami harus bersabar. Itu adalah kontrol traksi, kami membuka gas dan motor mulai bergerak. Itu memotong tenaga dan memberikannya dengan sangat agresif,” pungkasnya.