CEO McLaren Racing, Zak Brown, melontarkan tuduhan mengejutkan terhadap Red Bull Racing melalui buku terbarunya. Ia mengklaim bahwa tim tersebut telah “menundukkan diri” kepada juara dunia F1 empat kali, Max Verstappen, hingga beroperasi layaknya “kerajaan kecil miliknya sendiri.”
Dalam buku berjudul Seven Tenths of a Second yang dirilis pada 18 November, Brown menuliskan bahwa Red Bull “sangat takut kehilangan” Verstappen sehingga membentuk organisasi yang berputar sepenuhnya demi menjaga kenyamanannya—meski harus mengorbankan keseimbangan kompetitif di dalam tim.
Komentar ini muncul saat Verstappen tertinggal 49 poin dari Lando Norris dalam perebutan gelar juara dunia F1 2025 dengan hanya tiga balapan tersisa.
Kritik Pedas Brown
“Contoh lain adalah besarnya kekuasaan Max Verstappen di Red Bull. Saya sengaja memakai kata ‘kekuasaan’,” tulis Brown. “Bahkan jauh sebelum Christian Horner dipecat pada pertengahan musim 2025, situasinya sudah terasa seperti Max yang menjalankan tim. Semua orang terlihat tunduk. Semua orang tampak takut padanya.”
Brown juga menuduh Red Bull merancang mobil sepenuhnya mengikuti gaya mengemudi Verstappen, sehingga menyulitkan rekan setimnya tampil optimal. Ia menyoroti keputusan tim untuk tidak merekrut Carlos Sainz sebagai bukti bahwa Red Bull sengaja menghindari pembalap kedua yang kompetitif dan berpotensi menantang Verstappen.
Sainz sendiri pernah menyatakan dalam podcast High Performance pada Juli lalu bahwa ia tak memahami mengapa Red Bull tidak mendatangkannya, bahkan menyebut duetnya dengan Verstappen akan menjadi “pasangan yang sangat kuat.”
Brown menegaskan bahwa pendekatan Red Bull berbeda jauh dari filosofi kepemimpinan McLaren.
“Max adalah pembalap luar biasa dan mereka begitu takut kehilangannya. Cara mereka menjaganya adalah dengan mengutamakan kebahagiaannya di atas segalanya,” tulis Brown.
“Jika itu berarti menjadi tim satu orang—sebuah kerajaan kecil bagi sang pembalap—mereka bersedia melakukannya. Itu bukan cara saya memimpin di McLaren.”