Hujan deras selama beberapa hari memicu banjir parah di wilayah Vietnam tengah, menewaskan sedikitnya 16 orang dan mengancam panen kopi pada puncak musim produksi. Lima orang masih dilaporkan hilang, menurut badan manajemen bencana Vietnam.
Lebih dari 43.000 rumah terendam, sementara sedikitnya 10.000 hektare lahan pertanian rusak setelah sejumlah kawasan diguyur hujan ekstrem hingga lebih dari 1.500 milimeter dalam tiga hari.
Kota Pesisir Lumpuh
Kota wisata populer Nha Trang menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Banjir merendam seluruh blok kota, menenggelamkan ratusan mobil, dan memaksa warga bertahan di atap rumah.
Bui Quoc Vinh, pemilik usaha berusia 45 tahun, mengatakan restoran serta toko-tokonya terendam hingga setinggi satu meter, sementara rumah para karyawannya bahkan terendam hingga dua meter.
“Saya rasa air tidak akan surut dalam waktu dekat karena hujan belum berhenti,” ujarnya kepada AFP.
Di provinsi Gia Lai dan Dak Lak, tim penyelamat menggunakan perahu untuk mengevakuasi warga yang terjebak, bahkan harus memecah jendela dan menembus atap bangunan. Kementerian Pertahanan turut mengerahkan helikopter setelah debit Sungai Ba melampaui rekor tertinggi sejak 1993.
Akibat bencana ini, sekitar 553.000 rumah dan tempat usaha mengalami pemadaman listrik.
Panen Kopi Vietnam Terancam
Banjir terjadi di tengah musim panen krusial kopi robusta di Dataran Tinggi Tengah—wilayah yang menyumbang lebih dari 40% produksi robusta dunia.
“Sejumlah perkebunan di dataran rendah Dak Lak terendam banjir yang cukup dalam,” kata seorang pedagang kopi kepada Reuters.
Hujan tanpa henti memperlambat proses panen. Petani baru memetik 10–15% hasil, sementara biji yang sudah dipanen membutuhkan sinar matahari untuk dikeringkan.
Gangguan ini mengancam prediksi panen 2025–2026 yang seharusnya naik 8–10%. Harga kopi melonjak tajam pada 19 November, naik antara 3.200 hingga 4.100 dong per kilogram imbas gangguan produksi.
Perubahan Iklim Perparah Krisis
Banjir besar ini menambah daftar panjang bencana di Vietnam sepanjang tahun 2025. Antara Januari–Oktober, badai dan banjir telah menewaskan atau membuat hilang 279 orang serta menyebabkan kerugian lebih dari US$2 miliar.
Para ilmuwan menegaskan bahwa pemanasan air laut membuat badai lebih cepat terbentuk, bertahan lebih lama, dan menghasilkan curah hujan lebih intens.
“Vietnam dan negara-negara tetangganya berada di garis depan gangguan iklim,” ujar Benjamin Horton, profesor ilmu bumi dari City University of Hong Kong.
Pemerintah Vietnam telah menjanjikan alokasi lebih dari US$6 miliar hingga 2030 untuk membangun sistem peringatan dini, memperkuat infrastruktur, dan merelokasi masyarakat dari daerah berisiko tinggi.