Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menorehkan sejarah dengan mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa di level 8.419,92 pada perdagangan Kamis (20/11/2025), menguat 0,16% atau 13,34 poin. Pada sesi intraday, IHSG bahkan sempat menanjak hingga 8.491,43 sebelum terkoreksi tipis menjelang penutupan.
Kenaikan indeks dipimpin sektor konsumen siklikal yang melesat 2,50%, diikuti sektor infrastruktur (+0,52%) dan energi (+0,44%). Arus beli investor asing turut memperkuat reli IHSG, dengan net buy asing mencapai Rp 1,27 triliun di seluruh pasar, termasuk Rp 1,09 triliun di pasar reguler.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi 7,48 poin, setelah sahamnya naik 1,86% ke level Rp 4.940. Saham-saham konglomerasi seperti BREN, DSSA, dan BUVA turut menguat dan memberikan dorongan signifikan pada indeks.
Sentimen Positif dalam Negeri dan Global
Reli IHSG ditopang kabar baik dari ekonomi nasional. Neraca transaksi berjalan Indonesia mencatat surplus US$4 miliar atau 1,1% dari PDB pada kuartal III-2025—surplus pertama sejak awal 2023 dan tertinggi sejak kuartal III-2022, didorong peningkatan ekspor nonmigas.
“Surplus neraca perdagangan barang meningkat berkat perbaikan ekspor nonmigas. Defisit neraca jasa juga menyempit seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara,” ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso.
Bank Indonesia juga mempertahankan BI Rate di 4,75% pada RDG 18–19 November 2025, setelah memangkas suku bunga 125 bps sepanjang tahun ini. Kebijakan stabil tersebut disambut positif pelaku pasar.
Dari eksternal, bursa Asia bergerak menguat mengikuti kinerja Nvidia yang melampaui ekspektasi. Nikkei 225 melesat 2,91%, sementara Hang Seng naik 0,22%.
Total nilai transaksi harian mencapai Rp 19,65 triliun dengan volume 37,92 miliar saham, membuat kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp 15.409 triliun. Meski begitu, analis memperkirakan IHSG berpotensi terkoreksi ke kisaran 8.400–8.350 pada perdagangan Jumat.
