JAKARTA – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy tiba di Washington, Minggu (17/8/2025), untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam upaya diplomatik mengakhiri perang Rusi-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
“Kita semua memiliki keinginan kuat untuk mengakhiri perang ini dengan cepat dan andal,” tulis Zelenskyy di platform X, seraya menekankan bahwa perdamaian harus bersifat permanen.
Zelenskyy mengkritik jaminan keamanan yang diberikan kepada Ukraina pada 1994, menyebutnya sebagai kegagalan, dan menegaskan bahwa wilayah seperti Krimea seharusnya tidak pernah diserahkan.
“Sama seperti Ukraina tidak menyerahkan Kyiv, Odessa, atau Kharkiv setelah tahun 2022,” tegasnya.
Zelenskyy juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Trump dan rakyat Amerika atas dukungan mereka.
“Rakyat kami akan selalu berterima kasih kepada Presiden Trump, semua orang di Amerika, dan setiap mitra serta sekutu atas dukungan dan bantuan mereka yang tak ternilai,” ujarnya, dilansir dari Anadolu.
Menuju Perdamaian, Tapi Belum Ada Kesepakatan
Pertemuan ini berlangsung hanya dua hari setelah Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan tertutup selama hampir tiga jam di Anchorage, Alaska. Meski keduanya menyebut ada “kemajuan besar”, tidak ada kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan.
Putin dilaporkan mengusulkan agar Ukraina menyerahkan wilayah Donbas yang masih dikuasainya, sebagai syarat perdamaian. Sebagai imbalan, Rusia akan menarik pasukan dari wilayah lain dan memberikan jaminan keamanan tertulis.
Namun, Zelenskyy menolak gagasan menyerahkan wilayah, dan menegaskan bahwa semua keputusan terkait teritori harus melibatkan Ukraina secara langsung.
“Rakyat Ukraina berjuang untuk tanah air mereka, untuk kemerdekaan mereka. Kini, tentara kami meraih keberhasilan di wilayah Donetsk dan Sumy,” kata Zelenskyy.
Dukungan Eropa dan Agenda Pertemuan
Zelenskyy dijadwalkan bertemu Trump di Gedung Putih pada Senin (18/8) pukul 13.00 waktu setempat, diikuti dengan pertemuan bersama para pemimpin Eropa pukul 15.00. Di antara yang hadir adalah PM Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Trump menyatakan bahwa pendekatan terbaik adalah langsung menuju perjanjian damai, bukan sekadar gencatan senjata.
“It was determined by all that the best way to end the horrific war between Russia and Ukraine is to go directly to a Peace Agreement,” tulis Trump di Truth Social.
Namun, para diplomat dan pemimpin Eropa menyuarakan kekhawatiran bahwa pendekatan ini bisa menguntungkan Rusia dan menetapkan preseden berbahaya dalam geopolitik global.