JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat setelah satelit mendeteksi 2.774 titik panas dalam 24 jam terakhir. Ancaman tersebut diperkuat dengan luas indikatif lahan terbakar yang telah mencapai 38.310 hektare hingga 19 Agustus 2026.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan ribuan titik panas itu terpantau melalui sejumlah satelit, yakni NASA, NOAA-20, NASA SNPP, dan TERRA AQUA.
“Situasi di Kalimantan Barat, pemantauan hotspot selama 24 jam berdasarkan satelit NASA, NOAA-20, NASA SNPP, dan TERRA AQUA, terdeteksi 273 hotspot dengan kepercayaan tinggi, 2.420 kepercayaan menengah, dan 81 hotspot kepercayaan rendah,” kata Berton dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Data tersebut menunjukkan jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi mengalami peningkatan dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian, BNPB menegaskan hasil pemantauan satelit belum dapat langsung dijadikan kepastian adanya kebakaran di lapangan.
Menurut Berton, setiap titik panas yang terdeteksi masih membutuhkan verifikasi melalui peninjauan langsung dan pemantauan dari udara. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lokasi yang terindikasi memiliki aktivitas panas.
“Hasil citra satelit terjadi kenaikan jumlah hotspot dengan kepercayaan tingkat tinggi dibandingkan hari sebelumnya. Namun data hotspot perlu dikonfirmasi dari hasil peninjauan lapangan dan pemantauan patroli udara,” ujar Berton.
Kewaspadaan BNPB juga didorong oleh besarnya area yang telah terindikasi terbakar di Kalimantan Barat. Berdasarkan rekapitulasi data hingga pertengahan Agustus, luas indikatif lahan terbakar di provinsi tersebut telah mencapai puluhan ribu hektare.
“Luas indikatif lahan terbakar di Provinsi Kalimantan Barat per 19 Agustus tercatat 38.310 hektare,” tutur Berton.
Mengantisipasi meluasnya kebakaran, BNPB bersama sejumlah pemangku kepentingan menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang memiliki risiko karhutla.
Pelaksanaan OMC berlangsung pada 22-23 Agustus 2026 dengan sasaran wilayah yang memiliki titik panas dan kawasan yang dinilai membutuhkan intervensi. Upaya tersebut diarahkan untuk membantu membasahi wilayah rawan, termasuk area gambut yang berpotensi kembali terbakar.
Di sisi lain, kondisi cuaca pada pekan ini belum sepenuhnya memberikan jaminan berakhirnya ancaman karhutla. Berdasarkan analisis dan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Kalimantan Barat berpeluang mengalami hujan pada 23-29 Agustus 2026.
Namun, hujan yang diperkirakan turun berada pada intensitas ringan. Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya karhutla masih perlu diwaspadai hingga akhir periode tersebut.
“BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas hujan ringan di sebagian Kalimantan Barat pada tanggal 23 sampai 29 Agustus 2026. Namun, potensi kemudahan terjadinya karhutla masih perlu diwaspadai pada periode 23 sampai 29 Agustus 2026,” kata Berton.
Dengan meningkatnya titik panas dan luas lahan yang telah terindikasi terbakar, BNPB bersama tim gabungan di daerah melanjutkan pemantauan secara intensif. Pengawasan dilakukan melalui pemantauan darat maupun patroli udara untuk mengidentifikasi perkembangan titik panas sekaligus mengantisipasi munculnya titik api baru.



