JAKARTA – Tsunami Pangandaran yang terjadi pada 17 Juli 2006 masih membekas dalam ingatan masyarakat Indonesia. Meski sudah 20 tahun berlalu, bencana tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman gempa megathrust di selatan Pulau Jawa masih nyata. Para ahli menilai, kesiapsiagaan masyarakat harus terus ditingkatkan untuk mengurangi risiko jika bencana serupa kembali terjadi.
Gempa yang memicu tsunami terjadi di Samudra Hindia dengan magnitudo 7,7. Pusat gempa berada di zona subduksi selatan Jawa, tempat Lempeng Indo-Australia terus bergerak menekan Lempeng Eurasia. Pergeseran dasar laut akibat gempa inilah yang kemudian memicu tsunami.
Gelombang tsunami menghantam sejumlah wilayah pesisir di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pangandaran menjadi daerah yang mengalami dampak paling besar. Selain itu, beberapa kawasan di Cilacap hingga Yogyakarta juga terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Ribuan warga lainnya mengalami luka-luka dan kehilangan tempat tinggal. Kerusakan juga terjadi pada rumah, hotel, fasilitas umum, hingga sarana wisata di kawasan pantai.
Dalam peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran, para pakar kembali mengingatkan pentingnya memahami ancaman megathrust. Mereka menegaskan bahwa Indonesia memang berada di wilayah yang memiliki aktivitas tektonik sangat tinggi. Kondisi itu membuat potensi gempa besar selalu ada.
Ahli gempa menjelaskan bahwa tsunami Pangandaran dipicu oleh jenis tsunami earthquake. Gempa seperti ini sering kali tidak menimbulkan guncangan yang sangat kuat di daratan. Namun, pergeseran dasar lautnya cukup besar sehingga mampu menghasilkan gelombang tsunami yang merusak.
Fenomena tersebut membuat banyak warga saat itu tidak segera melakukan evakuasi. Sebagian mengira gempa yang dirasakan tidak terlalu berbahaya. Padahal, tsunami datang beberapa saat kemudian dan menghantam kawasan pesisir.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), zona megathrust merupakan bagian dari proses geologi yang berlangsung selama jutaan tahun. Energi terus tersimpan akibat pergerakan lempeng bumi. Ketika energi dilepaskan, gempa besar dapat terjadi.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa waktu terjadinya gempa belum bisa diprediksi. Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan gempa besar akan terjadi. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak berasal dari sumber resmi.
Pakar kebencanaan juga mengingatkan bahwa istilah megathrust bukan berarti bencana akan segera terjadi. Megathrust adalah nama untuk zona sumber gempa yang memang aktif secara alami. Keberadaannya harus dipahami sebagai potensi yang perlu diantisipasi.
Langkah mitigasi menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana. Masyarakat di wilayah pesisir perlu mengetahui jalur evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi. Latihan evakuasi secara berkala juga penting dilakukan agar warga terbiasa menghadapi kondisi darurat.
Selain kesiapan masyarakat, pemerintah terus memperkuat sistem peringatan dini tsunami. BMKG bersama berbagai instansi melakukan pemantauan aktivitas gempa selama 24 jam. Informasi yang diperoleh kemudian disampaikan secepat mungkin kepada masyarakat.
Pembangunan rambu evakuasi dan titik kumpul juga terus dilakukan di sejumlah daerah rawan tsunami. Fasilitas tersebut diharapkan membantu warga menyelamatkan diri saat terjadi keadaan darurat. Edukasi kebencanaan pun semakin sering diberikan kepada masyarakat dan pelajar.
BMKG mengingatkan bahwa tanda-tanda alami juga perlu dikenali. Jika merasakan gempa kuat atau gempa yang berlangsung lama saat berada di pantai, masyarakat sebaiknya segera menuju tempat yang lebih tinggi. Evakuasi tidak perlu menunggu bunyi sirene tsunami.
Selain itu, jika air laut tiba-tiba surut secara tidak wajar, kondisi tersebut juga harus diwaspadai. Fenomena itu dapat menjadi salah satu tanda datangnya tsunami. Keselamatan harus menjadi prioritas utama dibandingkan menyaksikan kondisi pantai.
Dua puluh tahun setelah tragedi Pangandaran, pelajaran dari bencana itu masih sangat relevan. Kesiapsiagaan, edukasi, dan mitigasi menjadi langkah terbaik dalam menghadapi ancaman gempa megathrust. Dengan kerja sama antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat, risiko korban jiwa akibat bencana di masa mendatang diharapkan dapat ditekan. (ACH)