BOGOR – Bendung Katulampa di Kota Bogor mencatat tinggi muka air (TMA) hingga 0 sentimeter seiring mulai terasa dampak musim kemarau di wilayah hulu Sungai Ciliwung. Minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat debit air terus menyusut, sehingga aliran sungai yang biasanya mengalir deras kini tampak jauh berkurang.
Data tersebut tercatat pada pertengahan Juli 2026. Meski kondisi air berada di titik nol sentimeter, situasi ini tidak menimbulkan ancaman banjir bagi wilayah hilir seperti Jakarta. Sebaliknya, fenomena tersebut menjadi gambaran kuat bahwa musim kemarau mulai terasa di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.
Petugas Bendung Katulampa menjelaskan bahwa penurunan tinggi muka air dipengaruhi oleh berkurangnya intensitas hujan di kawasan Puncak dan Bogor. Air yang mengalir ke Sungai Ciliwung menjadi jauh lebih sedikit dibandingkan saat musim hujan.
Bendung Katulampa merupakan salah satu titik penting dalam sistem pemantauan banjir Jakarta. Pos ini digunakan untuk mengukur debit air yang berasal dari wilayah hulu sebelum mengalir ke ibu kota. Ketika tinggi muka air meningkat, informasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat di daerah hilir.
Namun pada musim kemarau, kondisi yang terjadi justru sebaliknya. Debit air terus menurun hingga mencapai level terendah. Bahkan, dasar sungai di sekitar bendung mulai terlihat karena volume air yang semakin sedikit.
Meski demikian, petugas memastikan kondisi tersebut masih tergolong normal pada musim kemarau. Penurunan debit sungai memang kerap terjadi ketika curah hujan berkurang dalam waktu yang cukup lama. Situasi ini akan berubah apabila hujan kembali turun di kawasan hulu.
Selain dipengaruhi faktor cuaca, debit Sungai Ciliwung juga sangat bergantung pada kondisi daerah tangkapan air di kawasan pegunungan. Hutan, lahan resapan, dan anak-anak sungai memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air sepanjang tahun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau secara bertahap pada pertengahan tahun. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun timur yang membawa massa udara lebih kering sehingga peluang hujan menjadi lebih rendah.
BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan lokal masih dapat terjadi di beberapa wilayah. Namun intensitas dan frekuensinya jauh lebih rendah dibandingkan musim penghujan.
Surutnya debit Sungai Ciliwung tidak hanya berdampak pada sistem pemantauan banjir. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kebutuhan air bagi masyarakat yang bergantung pada aliran sungai, terutama jika kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Di sisi lain, debit air yang rendah dapat memengaruhi kualitas air sungai. Aliran yang melambat membuat konsentrasi limbah lebih tinggi karena proses pengenceran alami menjadi berkurang. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak membuang sampah maupun limbah ke aliran sungai agar kondisi lingkungan tetap terjaga.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan tinggi muka air di Bendung Katulampa setiap hari. Pemantauan dilakukan selama 24 jam untuk memastikan perubahan kondisi sungai dapat diketahui secara cepat, baik saat debit menurun maupun ketika hujan deras kembali terjadi.
Keberadaan Bendung Katulampa memiliki fungsi yang sangat penting dalam sistem mitigasi bencana hidrometeorologi. Data tinggi muka air yang diperoleh dari bendung menjadi acuan bagi berbagai lembaga dalam mengambil langkah antisipasi terhadap potensi banjir di wilayah hilir.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Penghematan air menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air bersih apabila musim kering berlangsung lebih panjang.
Sementara itu, warga yang tinggal di sekitar daerah aliran Sungai Ciliwung diharapkan tetap memperhatikan informasi cuaca dari BMKG. Meski saat ini debit sungai sedang rendah, hujan lebat di kawasan hulu tetap dapat menyebabkan kenaikan tinggi muka air dalam waktu singkat.
Dengan kondisi Bendung Katulampa yang mencapai 0 sentimeter, masyarakat mendapat gambaran bahwa musim kemarau tahun ini mulai memberikan dampak terhadap aliran Sungai Ciliwung. Pemantauan rutin, pengelolaan sumber daya air, serta kepedulian menjaga lingkungan menjadi langkah penting agar keseimbangan ekosistem sungai tetap terjaga selama musim kering. (ACH)